Membangun Generasi Unggul melalui Literasi Qur’ani, Literasi Teknologi, dan Literasi Akhlaqi
Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag./ Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur
SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang pintar secara akademik. Generasi masa depan harus memiliki kemampuan membaca realitas, menguasai teknologi, sekaligus memiliki karakter dan akhlak yang kuat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa fondasi moral dapat melahirkan manusia yang cerdas tetapi kehilangan arah.
Sebaliknya, moral yang baik tanpa kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman juga dapat membuat seseorang tertinggal. Karena itu, pendidikan perlu membangun tiga pilar literasi yang saling melengkapi, yaitu literasi Qur’ani, literasi teknologi, dan literasi akhlaqi. Ketiganya merupakan fondasi penting dalam membentuk manusia berilmu, berkarakter, adaptif, dan bertanggung jawab.
Literasi Qur’ani: Membaca Wahyu dan Membaca Kehidupan
Literasi Qur’ani tidak boleh dipersempit hanya pada kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil. Literasi Qur’ani memiliki dimensi yang jauh lebih luas, yaitu kemampuan memahami, menghayati, dan mengimplementasikan pesan-pesan Al-Qur’an dalam kehidupan. Al-Qur’an sendiri mengawali risalahnya dengan perintah membaca:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1) Ayat tersebut menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam dibangun melalui aktivitas membaca. Namun, membaca dalam perspektif Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan membaca dengan nama Allah. Artinya, ilmu pengetahuan harus memiliki orientasi ketuhanan, kemanusiaan, dan kemaslahatan. Generasi yang memiliki literasi Qur’ani tidak hanya mampu menghafal ayat, tetapi juga mampu menangkap nilai keadilan, kasih sayang, kejujuran, toleransi, tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian lingkungan yang terkandung di dalamnya.
Literasi Qur’ani juga harus mendorong seseorang untuk membaca dua ayat sekaligus: ayat qauliyah berupa wahyu Allah dan ayat kauniyah berupa alam semesta. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya hadir di ruang masjid dan madrasah, tetapi juga menjadi inspirasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, budaya, dan peradaban.
Literasi Teknologi: Cerdas Memanfaatkan, Bijak Mengendalikan
Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), media sosial, big data, internet of things, dan berbagai platform digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Teknologi memberikan peluang luar biasa. Santri, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dapat mengakses berbagai sumber ilmu hanya melalui perangkat digital.
Namun, teknologi juga menghadirkan tantangan: hoaks, cyberbullying, penipuan digital, kecanduan gawai, plagiarisme, ujaran kebencian, hingga penggunaan kecerdasan buatan secara tidak bertanggung jawab. Karena itu, literasi teknologi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat digital. Literasi teknologi harus mencakup kemampuan memilah informasi, memverifikasi kebenaran, menjaga keamanan data, memahami etika digital, dan menggunakan teknologi untuk produktivitas serta kemaslahatan. Dalam konteks pendidikan Islam, teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan menggantikan manusia sebagai pusat pendidikan. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia harus tetap memiliki kebijaksanaan.
Di sinilah pentingnya prinsip tabayyun sebagaimana ditegaskan Allah:
فَتَبَيَّنُوا “Maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6) Prinsip tabayyun sangat relevan dengan kehidupan digital. Sebelum membagikan sebuah informasi, seseorang harus bertanya: apakah informasi ini benar? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah bermanfaat? Apakah dapat merugikan orang lain? Dengan demikian, literasi teknologi harus melahirkan digital citizenship yang bertanggung jawab.
Literasi Akhlaqi: Ketika Ilmu Menjadi Karakter
Pilar ketiga adalah literasi akhlaqi. Inilah dimensi yang sering terlupakan ketika pendidikan terlalu berorientasi pada nilai akademik dan penguasaan teknologi.
Literasi akhlaqi merupakan kemampuan memahami, menghayati, dan membiasakan nilai-nilai moral dalam kehidupan nyata. Orang yang berilmu belum tentu berakhlak. Orang yang menguasai teknologi belum tentu bijaksana. Karena itu, pengetahuan dan keterampilan harus dikawal oleh akhlak. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad). Hadis tersebut memberikan pesan bahwa akhlak merupakan inti penting dalam misi pendidikan Islam.
Literasi akhlaqi harus diwujudkan dalam kebiasaan sederhana: jujur dalam mengerjakan tugas, menghormati guru, santun kepada orang tua, menghargai perbedaan, tidak melakukan perundungan, tidak menyebarkan fitnah, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Bahkan di era kecerdasan buatan, akhlak menjadi semakin penting. Ketika mesin dapat menghasilkan tulisan, gambar, suara, dan berbagai informasi dengan cepat, manusia justru semakin membutuhkan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah, yang bermanfaat dan yang merusak, yang etis dan yang tidak etis.
Tiga Literasi, Satu Tujuan
Literasi Qur’ani, teknologi, dan akhlaqi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Literasi Qur’ani memberikan arah. Literasi teknologi memberikan kemampuan.
Literasi akhlaqi memberikan batas dan tanggung jawab. Jika ketiganya dipadukan, pendidikan akan menghasilkan manusia yang tidak hanya smart, tetapi juga wise; tidak hanya kompeten, tetapi juga berkarakter. Secara sederhana dapat dirumuskan: Qur’ani membentuk orientasi, teknologi memperkuat kompetensi, dan akhlak menjaga integritas. Ketiganya menjadi sangat relevan bagi pendidikan pesantren dan madrasah. Pesantren tidak boleh terjebak pada dikotomi antara tradisi dan teknologi. Tradisi keilmuan Islam harus menjadi fondasi, sementara teknologi menjadi instrumen untuk memperluas manfaatnya. Santri masa depan bukan hanya santri yang mampu membaca kitab, tetapi juga mampu membaca zaman. Bukan hanya mampu menghafal ayat, tetapi mampu menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Bukan hanya mampu menggunakan kecerdasan buatan, tetapi mampu memastikan kecerdasan tersebut digunakan untuk kemaslahatan.
Implementasi dalam Pendidikan
Untuk mengembangkan ketiga literasi tersebut, lembaga pendidikan dapat melakukan beberapa langkah strategis.
Pertama, membangun budaya Qur’ani. Al-Qur’an harus hadir dalam budaya sekolah dan pesantren, bukan hanya sebagai mata pelajaran. Kajian tafsir tematik dapat dikaitkan dengan isu aktual seperti lingkungan, keadilan sosial, toleransi, ekonomi, kesehatan, dan teknologi.
Kedua, mengembangkan kurikulum literasi teknologi.
Peserta didik perlu dibekali keterampilan mencari, mengevaluasi, mengolah, dan memproduksi informasi digital. Pendidikan tentang kecerdasan buatan juga perlu disertai etika penggunaannya.
Ketiga, mengintegrasikan pendidikan akhlak dalam seluruh aktivitas. Akhlak tidak cukup diajarkan melalui teori. Ia harus dibangun melalui keteladanan guru, budaya lembaga, pembiasaan, disiplin positif, dan interaksi sosial.
Keempat, menciptakan ekosistem pendidikan yang humanis. Sekolah dan pesantren harus menjadi ruang yang aman, inklusif, ramah anak, bebas dari perundungan, serta menghargai keberagaman latar belakang peserta didik.
Kelima, membangun kolaborasi keluarga, sekolah, pesantren, pemerintah, dan masyarakat. Pembentukan karakter tidak mungkin berhasil apabila hanya dibebankan kepada guru. Ekosistem pendidikan harus bergerak bersama.
Menuju Generasi Emas yang Berkarakter
Indonesia sedang menghadapi perubahan besar menuju masyarakat digital dan ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam konteks Kalimantan Timur yang berada di tengah transformasi Ibu Kota Nusantara, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang unggul semakin besar. Generasi muda harus memiliki kemampuan akademik, kompetensi digital, kreativitas, kemampuan komunikasi, dan daya saing global. Namun, semua itu harus berdiri di atas fondasi nilai. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang hanya cerdas secara intelektual, tetapi lemah secara moral. Kita juga tidak ingin memiliki generasi yang sangat mahir menggunakan teknologi, tetapi mudah menyebarkan kebencian dan informasi palsu. Yang kita perlukan adalah generasi yang Qur’ani dalam orientasi, digital dalam kompetensi, dan akhlaqi dalam perilaku. Inilah wajah pendidikan yang seharusnya kita bangun: pendidikan yang memadukan iman, ilmu, teknologi, dan akhlak. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari seberapa tinggi nilai yang diperoleh peserta didik, tetapi juga dari seberapa besar ilmu itu membentuk kepribadian dan seberapa jauh kompetensinya memberikan manfaat bagi masyarakat. Literasi Qur’ani menuntun hati. Literasi teknologi mengasah kecerdasan. Literasi akhlaqi menjaga perilaku. Ketika ketiganya menyatu, lahirlah generasi yang bukan sekadar mampu menghadapi masa depan, tetapi juga mampu mengarahkan masa depan menuju peradaban yang berilmu, berakhlak, berkeadaban, dan berkemaslahatan. Allahu a’lam.
Comments are closed.