Idealitas dan Realitas Pendidikan Agama Islam dan Ormas Keislaman di Kalimantan Timur
Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag. Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur
SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Pendidikan Agama Islam (PAI) dan organisasi kemasyarakatan (ormas) keislaman memiliki posisi strategis dalam membangun karakter, moralitas, dan kualitas sumber daya manusia di Kalimantan Timur. Di tengah transformasi besar Kalimantan Timur sebagai wilayah penyangga sekaligus pusat baru pertumbuhan nasional melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), pendidikan Islam tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang memahami agama secara tekstual. Pendidikan Islam dituntut melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, adaptif terhadap teknologi, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang multikultural. Kalimantan Timur memiliki modal sosial-keagamaan yang kuat. Kehadiran berbagai lembaga pendidikan Islam, pesantren, madrasah, perguruan tinggi keagamaan Islam, masjid, majelis taklim, serta ormas keislaman telah menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan masyarakat. Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Al-Irsyad, LDII, organisasi kepemudaan Islam, serta berbagai yayasan dan komunitas keagamaan turut mengambil bagian dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Namun demikian, antara idealitas dan realitas masih terdapat kesenjangan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Idealitas pendidikan Islam menghendaki lahirnya manusia yang unggul secara spiritual, intelektual, sosial, dan profesional. Realitasnya, masih terdapat persoalan kualitas pembelajaran, kesenjangan kompetensi digital, keterbatasan sarana, fragmentasi kelembagaan, serta belum optimalnya sinergi antara lembaga pendidikan Islam, ormas, pemerintah, dunia usaha, industri, dan ekosistem IKN.
Idealitas Pendidikan Agama Islam
Secara ideal, PAI bukan sekadar proses transfer pengetahuan agama, tetapi proses pembentukan manusia seutuhnya. Pendidikan Islam harus membangun iman, ilmu, amal, dan akhlak secara terpadu. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Ayat tersebut memberikan pesan bahwa keimanan dan ilmu merupakan dua fondasi penting dalam membangun kualitas manusia. Karena itu, pendidikan Islam tidak boleh terjebak pada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. PAI idealnya mampu menjawab kebutuhan zaman. Peserta didik harus memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus mampu membaca realitas sosial; memahami fikih sekaligus memahami persoalan ekonomi dan teknologi; memiliki akhlak sekaligus kompetensi profesional; serta memiliki identitas keislaman yang kuat sekaligus wawasan kebangsaan yang kokoh. Dalam konteks Kalimantan Timur, idealitas tersebut semakin penting karena pembangunan IKN akan membawa perubahan demografis, ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi. Generasi muda Kaltim harus disiapkan bukan hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan.
Realitas Pendidikan Islam di Kalimantan Timur
Di balik berbagai kemajuan, pendidikan Islam di Kalimantan Timur masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, kesenjangan mutu pendidikan masih menjadi persoalan. Tidak semua madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam memiliki kualitas sarana, tenaga pendidik, manajemen, dan akses teknologi yang sama. Perbedaan antara lembaga pendidikan di kawasan perkotaan dan daerah yang relatif terpencil masih perlu mendapatkan perhatian.
Kedua, kompetensi digital pendidik dan peserta didik belum merata. Transformasi digital dan perkembangan artificial intelligence (AI) menuntut guru PAI tidak hanya menguasai materi keagamaan, tetapi juga mampu menggunakan teknologi sebagai instrumen pembelajaran. Guru agama harus bergerak dari sekadar pengguna teknologi menjadi pendidik yang mampu membimbing peserta didik menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan produktif.
Ketiga, pembelajaran PAI terkadang masih terlalu berorientasi pada aspek kognitif. Keberhasilan pendidikan agama tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan peserta didik menjawab soal tentang dalil, fikih, atau sejarah Islam. Indikator keberhasilan yang lebih substansial adalah apakah pendidikan tersebut membentuk kejujuran, tanggung jawab, toleransi, disiplin, kepedulian sosial, dan kemampuan menyelesaikan persoalan kehidupan.
Keempat, link and match pendidikan Islam dengan dunia kerja masih perlu diperkuat. Dalam menghadapi transformasi IKN, lulusan pendidikan Islam perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Penguasaan komunikasi, bahasa asing, teknologi digital, kewirausahaan, manajemen, ekonomi kreatif, serta keterampilan profesional harus berjalan bersama dengan penguatan nilai-nilai keislaman.
Idealitas dan Realitas Ormas Keislaman
Ormas keislaman memiliki peran historis dan strategis dalam pendidikan masyarakat. Idealnya, ormas tidak hanya menjadi organisasi dakwah, tetapi juga menjadi kekuatan civil society yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan pendidikan, kemiskinan, kebodohan, intoleransi, krisis moral, dan perubahan sosial. Dalam konteks Kalimantan Timur, ormas keislaman memiliki jaringan sosial yang sangat luas. Mereka memiliki sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, masjid, lembaga zakat, organisasi kepemudaan, dan berbagai aktivitas sosial. Potensi tersebut merupakan modal besar untuk memperkuat pembangunan manusia. Namun realitasnya, potensi besar tersebut belum selalu terintegrasi dalam agenda pembangunan daerah. Program pendidikan antarormas terkadang berjalan sendiri-sendiri. Sinergi antara ormas, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat masih dapat ditingkatkan. Karena itu, diperlukan paradigma baru: dari kompetisi kelembagaan menuju kolaborasi kebangsaan. Perbedaan tradisi, manhaj, dan orientasi organisasi seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam persoalan yang lebih besar, seperti peningkatan mutu pendidikan, pemberantasan kemiskinan, perlindungan anak, literasi digital, penguatan moderasi beragama, dan pembangunan SDM Kaltim.
Pendidikan Islam Harus Menjadi Kekuatan Integrasi Sosial
Kalimantan Timur merupakan ruang perjumpaan berbagai etnis, budaya, bahasa, dan tradisi. Kehadiran masyarakat Dayak, Kutai, Banjar, Bugis, Jawa, Madura, Melayu, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya membentuk mosaik sosial yang sangat kaya.
Dalam masyarakat multikultural seperti ini, PAI dan ormas keislaman memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 107: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” Pesan tersebut relevan dengan kehidupan masyarakat Kalimantan Timur. Pendidikan Islam harus membangun keberagamaan yang menghadirkan kedamaian, bukan permusuhan; persaudaraan, bukan segregasi; dialog, bukan saling menegasikan. Nilai Islam dan nilai Pancasila juga tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan secara sinergis dalam membangun kehidupan kebangsaan yang religius, demokratis, adil, dan berkeadaban.
Menyongsong IKN: Pendidikan Islam Harus Naik Kelas
Transformasi IKN harus menjadi momentum untuk melakukan reorientasi pendidikan Islam di Kalimantan Timur. Pertama, pemerintah perlu memperkuat pemerataan mutu madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam. Kedua, perguruan tinggi keagamaan Islam perlu memperkuat riset tentang kebutuhan SDM IKN dan mengembangkan program studi yang relevan dengan transformasi ekonomi, teknologi, lingkungan, dan sosial. Ketiga, ormas keislaman perlu mengembangkan pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai keislaman. Keempat, perlu dibangun link and match antara madrasah, pesantren, perguruan tinggi Islam, pemerintah daerah, Otorita IKN, dunia industri, dan masyarakat. Kelima, penguatan pendidikan berbasis teknologi dan AI harus disertai dengan etika digital. Generasi muda Islam harus mampu menggunakan AI untuk belajar dan berkarya, tetapi tidak kehilangan kejujuran, tanggung jawab, adab, dan integritas. Keenam, perlu dikembangkan pendidikan kewirausahaan. Pendidikan Islam tidak boleh hanya menyiapkan pencari kerja, tetapi juga harus melahirkan entrepreneur muda yang beretika dan berdaya saing.
Dari Fragmentasi Menuju Kolaborasi
Salah satu pekerjaan besar pendidikan Islam di Kaltim adalah membangun ekosistem kolaboratif. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Ormas tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan sendiri. Perguruan tinggi juga tidak dapat bergerak tanpa dukungan masyarakat dan dunia industri. Karena itu, diperlukan konsep pentahelix pendidikan Islam, yaitu kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, masyarakat/ormas, serta media. Dalam kerangka tersebut, ormas keislaman dapat menjadi kekuatan sosial, perguruan tinggi menjadi pusat ilmu dan inovasi, pemerintah menjadi regulator dan fasilitator, industri menjadi mitra pengembangan kompetensi, sedangkan media menjadi penguat literasi publik. Kolaborasi tersebut akan jauh lebih produktif dibandingkan jika setiap lembaga berjalan dengan agenda masing-masing.
Penutup
Idealitas pendidikan agama Islam di Kalimantan Timur adalah lahirnya manusia yang saleh secara spiritual, unggul secara intelektual, kompeten secara profesional, matang secara sosial, melek teknologi, cinta lingkungan, dan memiliki komitmen kebangsaan.
Sementara itu, idealitas ormas keislaman adalah menjadi kekuatan masyarakat sipil yang mampu menggerakkan pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, penguatan moderasi beragama, dan pembangunan sosial. Realitas menunjukkan bahwa modal tersebut sebenarnya sudah tersedia. Persoalannya adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut dapat disinergikan menjadi sebuah ekosistem pendidikan Islam yang unggul, inklusif, adaptif, dan berdaya saing. IKN seharusnya tidak hanya menjadi proyek pembangunan gedung dan infrastruktur. IKN harus menjadi momentum pembangunan manusia Indonesia yang unggul. Dan dalam agenda tersebut, pendidikan agama Islam serta ormas keislaman di Kalimantan
Comments are closed.