SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) – Kader Digital Islam Sehat (KADIS) SD Muhammadiyah 4 Terpadu Samarinda menunjukkan kemampuan komunikasi yang baik saat memberikan edukasi pencegahan perilaku merokok kepada 110 siswa. Melalui pendekatan pendidikan teman sebaya, para kader mampu menyampaikan pesan kesehatan dengan bahasa yang sederhana, percaya diri, santun, dan sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Tahun 2026, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), berjudul “Optimalisasi Kader Digital Islam Sehat (KADIS) sebagai Upaya Pencegahan Perilaku Merokok Sejak Dini.”
Program ini dilaksanakan oleh tim Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) bersama mitra SD Muhammadiyah 4 Terpadu Samarinda.
Program ini memperoleh pembiayaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) melalui Program Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026. Pelaksanaan kegiatan berdasarkan Kontrak Induk Nomor 214/C3/DT.05.00/PM/2026 tanggal 13 April 2026 dan Kontrak Turunan Nomor 90/LL11/KM/2026 tanggal 23 April 2026.
Tim pelaksana PKM BIMA diketuai oleh Sri Sunarti, SKM., MPH., Ph.D., dengan anggota Jubaidi, M.M. dan Ns. Andri Praja Satria, S.Kep., M.Sc. Program ini juga melibatkan mahasiswa UMKT, yaitu Rizka Amelia, Risma Apriliansyah, dan Muhammad Iqbal, yang berperan dalam pelatihan kader, pengembangan media edukasi, pendampingan pendidikan sebaya, serta dokumentasi kegiatan.
Pelaksanaan program memperoleh dukungan penuh dari pihak mitra, yaitu Zainal Arifin, M.Pd.I., selaku Kepala SD Muhammadiyah 4 Terpadu Samarinda; Muhammad Nur Mannan, M.Pd. selaku Wakil Kepala Sekolah; serta Darmayanti, A.Md.Kep., selaku Penanggung Jawab Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi kekuatan utama dalam pembentukan, pelatihan, pendampingan, dan keberlanjutan KADIS.
Berbeda dari edukasi kesehatan yang sepenuhnya disampaikan oleh guru atau tenaga kesehatan, kegiatan ini memberikan ruang kepada KADIS untuk menjadi komunikator kesehatan bagi teman sebayanya. Sebanyak 10 kader yang telah mengikuti pelatihan menyampaikan materi mengenai bahaya rokok konvensional dan rokok elektronik, cara menolak ajakan merokok, pentingnya memilih informasi kesehatan yang benar, serta penggunaan media digital secara sehat dan bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaannya, para KADIS tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu membangun interaksi dengan peserta. Edukasi dilakukan melalui penjelasan singkat, tanya jawab, simulasi, penggunaan media visual, dan ajakan bersama untuk menjaga lingkungan sekolah agar bebas dari rokok dan vape. Pendekatan tersebut membuat suasana pembelajaran lebih komunikatif, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh 110 siswa yang mengikuti kegiatan.
Ketua tim pelaksana, Sri Sunarti, menjelaskan bahwa keterampilan komunikasi merupakan salah satu kemampuan utama yang harus dimiliki kader kesehatan sekolah. KADIS tidak hanya dipersiapkan untuk memahami bahaya merokok, tetapi juga dilatih agar mampu menyampaikan pesan kesehatan secara kreatif, santun, dan tidak menghakimi.
“Anak-anak lebih mudah menerima pesan ketika disampaikan oleh teman sebaya dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka. Oleh karena itu, KADIS dilatih menjadi teladan sekaligus komunikator kesehatan yang berani, santun, kreatif, dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Program ini memiliki arah pengembangan yang lebih luas. Keberhasilan KADIS di lingkungan sekolah diproyeksikan menjadi model awal menuju gerakan “Satu Ranting Muhammadiyah, Satu Kader Digital Islam Sehat.” Melalui pengembangan tersebut, setiap ranting Muhammadiyah diharapkan memiliki kader yang mampu menyampaikan edukasi kesehatan berbasis nilai Islam dan literasi digital kepada anak, remaja, keluarga, serta masyarakat di lingkungannya.
Pengembangan KADIS dari kader berbasis sekolah menuju kader berbasis ranting menjadi strategi keberlanjutan agar edukasi pencegahan perilaku merokok tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Model ini diharapkan dapat direplikasi secara bertahap melalui kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, ranting Muhammadiyah, keluarga, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain pendidikan teman sebaya, program KADIS diperkuat melalui kebijakan Kawasan Tanpa Rokok yang mencakup rokok konvensional dan rokok elektronik, penerbitan surat tugas kader, serta penyediaan modul, poster, baliho, video, dan media edukasi digital. Dengan dukungan tersebut, KADIS diharapkan dapat melaksanakan edukasi secara berkala dan terintegrasi dengan program UKS serta kegiatan sekolah.
Kehadiran KADIS membuktikan bahwa siswa sekolah dasar dapat dilibatkan secara aktif sebagai agen perubahan apabila diberikan pelatihan, pendampingan, dan ruang untuk berkontribusi. Dari sekolah menuju ranting Muhammadiyah, KADIS diharapkan berkembang menjadi gerakan pemberdayaan yang melahirkan generasi *sehat akhlaknya, sehat tubuhnya, dan cerdas digitalnya.(/mn)
Comments are closed.