Seleksi Pimpinan Baznas kaltim Mengerucut 10 Nama, Saat Kompetesi Bertemu Lobi dan “Restu”

SAMARINDA (Amanah Ummat.Com)  – Seleksi calon Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Kalimantan Timur periode 2026-2031 memasuki babak paling krusial.Dari 32 pendaftar, kini tinggal 10 nama yang dinyatakan lulus seleksi kompetensi dan menanti “restu” akhir. Sepuluh nama tersebut adalah: Achmad Suparno, Badrus Syamsi, Baequni, Bambang Saputra, Harun Al Rasyid, Imam Sutanto, Kristian Widi Asmoro, Miswan Thahadi, Moh. Syamsul Hadi, dan Mohlis.

Daftar itu diumumkan Tim Seleksi Baznas Kaltim dan telah diajukan Pemprov Kaltim ke BAZNAS RI untuk mendapatkan rekomendasi.”Dari 10 nama yang dikirimkan itu, kami belum tahu tanggapan Baznas seperti apa. Jadi, itu yang kami tunggu,” ujar Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdaprov Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda, kepada Wartawan di Samarinda  Jumat (30/10) di Kantor Gubernur Kaltim.

Selanjutnya, Gubernur Kaltim akan menentukan 5 orang yang resmi menjadi Pimpinan BAZNAS Kaltim 2026-2031. Di atas kertas, mekanismenya tampak ideal: seleksi administrasi, kompetensi, hingga wawancara. Namun, opini yang berkembang di kalangan umat dan pegiat zakat di Kaltim, ada satu fase yang tak tertulis dalam regulasi: kekuatan lobi dan restu.

Dua Jalur Menuju Kursi PimpinanSesuai regulasi, Pimpinan BAZNAS terdiri dari unsur pemerintah dan unsur masyarakat (ulama, tokoh masyarakat, profesional). Di sinilah titik temu antara kompetensi dan politik dimulai.Secara formal, calon harus meyakinkan Pansel dengan visi penghimpunan zakat. Faktanya, potensi zakat Kaltim yang triliunan rupiah belum tergarap maksimal, sehingga dibutuhkan pemimpin yang tidak hanya saleh, tapi juga manajerial dan inovatif.

Informasi dari berbagai sumber  untuk menjadi pimpinan Baznas  baik tingkat kota , tingkat Provinsi, bahkan tinggat pusat, ada tiga lobi yang bekerja: Pertama, Lobi Birokrasi (Restu Gubernur): Pansel mengajukan 10 nama untuk 5 kursi. Artinya, ada diskresi 50% di tangan Gubernur. Siapa yang dianggap paling “nyaman” secara politik dan birokrasi, dialah yang punya peluang terbesar. Kedua. Lobi Ormas Keagamaan: Dukungan gerbong besar seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI menjadi nilai tawar. BAZNAS adalah lembaga keagamaan yang sangat sensitif, sehingga Gubernur pasti akan mempertimbangkan representasi ormas agar tidak terjadi gejolak. Ketiga , Lobi Pusat (BAZNAS RI & Kemenag RI): 10 nama yang dikirim ke Jakarta harus mendapat rekomendasi. Tanpa jaringan dan komunikasi yang baik di pusat, nama yang unggul di daerah bisa saja tersandung di pusat.

Jangan Jadi Alat Politik

Inilah realitas yang tidak bisa kita tutup mata. Kompetensi membuat seorang calon lolos hingga 10 besar, tetapi lobi dan restu yang menentukan apakah ia masuk 5 besar.Jangan Sampai Zakat Jadi Alat Politik.  Bahaya terbesar jika faktor lobi lebih dominan dari kompetensi . BAZNAS kehilangan ruh utamanya: lembaga kepercayaan umat.Jika pimpinan terpilih lebih karena kedekatan politik daripada kapabilitas amil, maka target penghimpunan zakat, pendistribusian yang tepat sasaran, dan kepercayaan muzakki akan terancam.

Harapan kita, Gubernur Kaltim sebagai penentu akhir mampu melihat lebih jauh. Pilihlah 5 sosok yang memiliki tiga kombinasi: Integritas keulamaan, kapabilitas manajerial, dan akseptabilitas umat. Bukan hanya yang rajin sowan, tapi yang rajin bekerja. Kita semua berharap  ,khususnya  sebagai warga kaltim  pengurus baru nantinya bisa mendongkrak dan dan penghimpunan  penerimaan zakat.  dan bisa menyalurkan  yang tepat sasaran agar manfaatnya dirasakan masyarakat, terutama kelompok ekonomi rentan. Ditengah efesiensi aggaran yang semakin tajam ini semoga Baznas bisa lebih  berperan untuk bisa menekan kemiskinan di kalimantan Timur. (M Roghib)

 

Bagikan

Comments are closed.