Keterampilan Masa Depan , Pendidikan, dan Pengembangan SDM IKN Kaltim
Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag. Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI, Asesor LAMDIK RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur
SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur merupakan salah satu agenda strategis Indonesia dalam mewujudkan pemerataan pembangunan, memperkuat tata kelola pemerintahan, dan mempersiapkan masa depan bangsa. IKN tidak semestinya hanya dipahami sebagai pembangunan gedung pemerintahan, jalan, kawasan hunian, dan infrastruktur digital, tetapi juga sebagai proyek besar pembangunan manusia yang berdaya saing, berkarakter, berbudaya, dan berkelanjutan.
Di tengah perubahan global yang ditandai oleh perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), otomatisasi, ekonomi digital, transisi energi, dan persaingan tenaga kerja lintas negara, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan IKN. Infrastruktur yang megah tidak akan memberikan manfaat optimal apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi. Oleh karena itu, keterampilan masa depan (future skills) harus menjadi salah satu fondasi utama pembangunan pendidikan dan pengembangan SDM di IKN. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah masyarakat Kalimantan Timur telah dipersiapkan untuk menjadi pelaku utama pembangunan IKN, atau justru hanya menjadi penonton di tengah pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial yang berlangsung di daerahnya sendiri? Pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui kebijakan pendidikan yang terarah, penguatan pendidikan vokasi, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, kolaborasi dengan dunia usaha dan industri, serta pembangunan karakter yang berlandaskan Pancasila dan nilai-nilai moral.
Keterampilan Masa Depan dalam Perubahan Dunia Kerja
Keterampilan masa depan merupakan seperangkat kompetensi yang memungkinkan seseorang menghadapi perubahan lingkungan kerja, perkembangan teknologi, dan dinamika kehidupan masyarakat. Keterampilan tersebut tidak terbatas pada kemampuan mengoperasikan perangkat digital, tetapi mencakup kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, berinovasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dalam konteks pembangunan IKN, setidaknya terdapat enam kelompok keterampilan masa depan yang perlu dikembangkan. Di antaranya:
Pertama, literasi digital dan kecerdasan buatan.
Kedua, kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Ketiga, kreativitas dan inovasi.
Keempat, komunikasi dan kolaborasi.
Kelima, keterampilan hijau (green skills).
Keenam, karakter, etika, dan kemampuan belajar sepanjang hayat.
Keenam kelompok keterampilan tersebut harus dikembangkan secara terpadu. Pendidikan masa depan tidak boleh menghasilkan manusia yang hanya cakap secara teknis, tetapi lemah secara moral; tidak boleh pula melahirkan generasi yang memiliki karakter baik, tetapi tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan sebagai Fondasi Pembangunan IKN
Pendidikan memiliki posisi strategis dalam menyiapkan SDM yang mampu mengisi berbagai peluang pembangunan IKN. Namun, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kelulusan, ijazah, dan pencapaian akademik. Pendidikan perlu diarahkan pada penguasaan kompetensi nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan pembangunan berkelanjutan. Dalam perspektif ini, pendidikan harus berfungsi sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya: mengembangkan intelektualitas, keterampilan profesional, kematangan emosional, integritas moral, dan kepedulian sosial.
Sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan harus menjadi ekosistem pembelajaran yang saling melengkapi. Setiap lembaga memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan, memanfaatkan teknologi, menjaga nilai-nilai kebangsaan, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah. Kurikulum perlu memberikan ruang lebih luas bagi pembelajaran berbasis proyek, penelitian, praktik lapangan, pemecahan masalah nyata, kewirausahaan, dan kolaborasi lintas disiplin. Peserta didik harus memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dalam kehidupan, bukan sekadar mempelajari teori di ruang kelas.
Sementara itu, pesantren dan lembaga pendidikan Islam dapat berkontribusi melalui penguatan akhlak, etika profesi, tanggung jawab sosial, kepedulian ekologis, serta integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman. Pendidikan yang relevan dengan IKN bukan berarti seluruh peserta didik harus diarahkan menjadi tenaga kerja pada sektor pembangunan fisik. Mereka juga harus dipersiapkan menjadi pendidik, peneliti, tenaga kesehatan, aparatur negara, pengusaha, pekerja kreatif, pemimpin masyarakat, dan warga negara yang bertanggung jawab.
Pengembangan SDM Kalimantan Timur: Dari Penonton Menjadi Pelaku Utama
Salah satu tantangan penting pembangunan IKN adalah memastikan bahwa masyarakat Kalimantan Timur memperoleh kesempatan yang adil untuk meningkatkan kualitas hidup dan berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi. Kehadiran investasi, pembangunan infrastruktur, dan aktivitas pemerintahan harus disertai kebijakan pengembangan kompetensi masyarakat setempat. Tanpa strategi yang terarah, terdapat risiko ketidaksesuaian antara kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi masyarakat lokal. Perusahaan mungkin membutuhkan tenaga profesional dengan keterampilan tertentu, sedangkan pencari kerja belum memiliki kualifikasi yang diperlukan. Akibatnya, peluang kerja dapat lebih banyak diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah. Untuk mencegah kondisi tersebut, pengembangan SDM harus dilakukan melalui pendekatan yang sistematis, antara lain:
Pertama, pemetaan kebutuhan tenaga kerja.
Kedua, penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan kerja..
Ketiga, peningkatan kompetensi guru dan dosen.
Keempat, perluasan akses pendidikan yang inklusif.
Kelima, penguatan kewirausahaan masyarakat lokal.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan IKN diharapkan dapat memperkuat mobilitas sosial, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan memperluas kesempatan kerja yang berkualitas bagi penduduk Kalimantan Timur.
Kolaborasi Pemerintah, Pendidikan, Dunia Usaha, dan Masyarakat
Pengembangan SDM tidak dapat diserahkan kepada lembaga pendidikan semata. Persoalan keterampilan masa depan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang terencana, terukur, dan berkelanjutan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah berperan menyusun kebijakan, menyediakan dukungan anggaran, memperluas akses pelatihan, dan memastikan pemerataan kesempatan. Otorita IKN dapat memperkuat koordinasi pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan Nusantara sesuai kewenangannya. Sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi bertanggung jawab menyelenggarakan pembelajaran yang bermutu dan mengembangkan kompetensi peserta didik. Dunia usaha dan industri perlu terlibat dalam penyusunan kurikulum, penyediaan tempat magang, transfer pengetahuan, sertifikasi kompetensi, dan pembukaan akses terhadap kesempatan kerja.
Dewan Pendidikan dapat mengambil peran strategis sebagai mitra pemikiran dan pengawasan partisipatif dalam mendorong kebijakan pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan daerah. Komite sekolah, organisasi profesi, komunitas, dan keluarga juga perlu dilibatkan dalam membangun budaya belajar dan karakter peserta didik. Perguruan tinggi di Kalimantan Timur, termasuk UINSI Samarinda, memiliki peluang untuk memperkuat riset dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan IKN. Pengembangan program akademik, penelitian multidisipliner, pelatihan masyarakat, dan kemitraan dengan pemerintah maupun industri perlu diarahkan pada persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Kolaborasi tersebut idealnya diwujudkan melalui forum koordinasi pengembangan SDM IKN dan Kalimantan Timur yang menyepakati peta jalan kompetensi, pembagian peran, sasaran tahunan, sumber pembiayaan, serta indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi secara terbuka.
Dengan demikian, kebijakan pendidikan tidak berjalan sendiri, pelatihan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, dan kebutuhan industri tidak dipisahkan dari agenda pemerataan pembangunan manusia.
Tantangan dan Alternatif Solusi
Meskipun peluang pengembangan SDM sangat besar, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi antara lain:
Pertama, kesenjangan kualitas pendidikan dan fasilitas pembelajaran antardaerah. Solusinya adalah memperkuat pemerataan guru berkualitas, infrastruktur digital, bahan ajar, dan dukungan pembelajaran bagi satuan pendidikan yang membutuhkan.
Kedua, ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Solusinya adalah memperbarui kurikulum berdasarkan data kebutuhan tenaga kerja, memperluas magang, dan meningkatkan pengakuan terhadap sertifikasi kompetensi.
Ketiga, kesenjangan literasi digital. Solusinya adalah menyediakan pelatihan digital yang mudah diakses, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan kelompok masyarakat, sekaligus memperkuat literasi informasi dan keamanan digital.
Keempat, potensi terpinggirkannya masyarakat lokal dalam persaingan ekonomi. Solusinya adalah mengembangkan program peningkatan keterampilan yang terukur, memperluas akses informasi lowongan kerja, memperkuat UMKM, serta mendorong kemitraan usaha yang memberikan kesempatan nyata bagi masyarakat setempat.
Kelima, risiko melemahnya nilai sosial dan kepedulian lingkungan akibat orientasi pembangunan yang terlalu menekankan pertumbuhan ekonomi. Solusinya adalah mengintegrasikan pendidikan karakter, etika publik, kebangsaan, dan tanggung jawab ekologis ke dalam proses pembelajaran maupun praktik profesional.
Keenam, belum optimalnya koordinasi antarlembaga. Solusinya adalah membangun tata kelola kolaboratif dengan target bersama, basis data yang dapat dipertanggungjawabkan, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi yang transparan.
Keberhasilan solusi tersebut perlu diukur melalui indikator yang jelas, seperti peningkatan kompetensi tersertifikasi, penyerapan lulusan dalam pekerjaan yang sesuai, produktivitas UMKM, partisipasi pelatihan, pemerataan akses pendidikan, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam aktivitas ekonomi IKN. Pengukuran harus menggunakan data awal dan evaluasi berkala agar keberhasilan tidak hanya dinilai dari jumlah kegiatan atau besarnya anggaran yang terserap.
Perspektif Pendidikan Islam dan Pembangunan Karakter
Dalam perspektif pendidikan Islam, pengembangan SDM tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan manusia yang produktif secara ekonomi, tetapi juga manusia yang memiliki tanggung jawab moral kepada Allah Swt., sesama manusia, bangsa, dan lingkungan. Islam menempatkan ilmu sebagai fondasi kemajuan manusia. Wahyu pertama dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 menegaskan pentingnya membaca, belajar, dan memperoleh pengetahuan. Sementara itu, Surah Al-Qasas ayat 77 mengajarkan keseimbangan antara orientasi kehidupan akhirat dan tanggung jawab terhadap kehidupan dunia, termasuk berbuat baik dan tidak menimbulkan kerusakan di bumi.
Nilai-nilai tersebut relevan dengan pengembangan SDM IKN. Kemajuan teknologi harus diiringi kebijaksanaan dalam penggunaannya. Kecakapan profesional harus disertai kejujuran. Kecerdasan intelektual harus diperkuat dengan kepedulian sosial. Produktivitas ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Pendidikan Islam dapat mengembangkan konsep manusia unggul yang memadukan iman, ilmu, amal, akhlak, dan tanggung jawab kebangsaan. Integrasi tersebut bukan berarti membatasi peserta didik pada bidang keagamaan, melainkan menjadikan nilai-nilai moral sebagai landasan bagi penguasaan ilmu pengetahuan, profesi, inovasi, dan kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pendidikan agama juga perlu memperkuat sikap moderat, penghormatan terhadap perbedaan, toleransi, dan komitmen terhadap Pancasila serta Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan demikian, SDM yang dibutuhkan IKN bukan hanya manusia yang mampu membangun kota pintar, melainkan juga manusia yang bijak, berintegritas, menghargai kemanusiaan, menjaga kelestarian alam, dan mampu hidup berdampingan secara damai.
Agenda Strategis Menuju Indonesia Emas 2045
Pembangunan IKN perlu ditempatkan dalam kerangka jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045. Untuk itu, pengembangan SDM harus memiliki peta jalan yang konsisten dan tidak bergantung semata-mata pada pergantian program atau kepemimpinan. Dalam jangka pendek, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu melakukan pemetaan kompetensi, memperluas pelatihan digital, memperkuat pendidikan vokasi, serta membangun kemitraan antara lembaga pendidikan dan industri. Dalam jangka menengah, prioritas diarahkan pada peningkatan mutu pembelajaran, pengembangan pusat pelatihan kompetensi, penguatan penelitian terapan, perluasan sertifikasi profesi, dan peningkatan kapasitas UMKM lokal.
Dalam jangka panjang, IKN diharapkan berkembang menjadi salah satu ekosistem pembelajaran dan inovasi yang mampu menghasilkan tenaga profesional, wirausahawan, peneliti, pemimpin, serta masyarakat yang adaptif terhadap perubahan global. Agenda tersebut harus dilaksanakan dengan prinsip pemerataan kesempatan, keberlanjutan lingkungan, keterbukaan tata kelola, dan penghormatan terhadap budaya lokal. Masyarakat adat dan komunitas lokal juga perlu dilibatkan secara bermakna agar pembangunan tidak menghilangkan identitas sosial dan kearifan lokal Kalimantan Timur. Keberhasilan pembangunan IKN pada akhirnya tidak cukup dinilai dari kemajuan fisik kota, melainkan juga dari meningkatnya kualitas kehidupan manusia, produktivitas masyarakat, mutu pendidikan, pemerataan kesempatan, dan terpeliharanya lingkungan.
Penutup: Menyiapkan Manusia untuk Masa Depan Nusantara
Keterampilan masa depan, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia merupakan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan Ibu Kota Negara Nusantara. Ketiganya harus menjadi prioritas agar IKN tidak hanya menjadi simbol kemajuan infrastruktur, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, inovatif, dan berdaya saing global.
Kalimantan Timur memiliki peluang strategis untuk menjadi pusat pengembangan kompetensi yang mendukung kebutuhan IKN sekaligus memperkuat pembangunan daerah. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah, Otorita IKN, lembaga pendidikan, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat membangun komitmen bersama. Pendidikan harus bergerak dari pola pembelajaran yang terlalu menekankan hafalan menuju pembelajaran yang mengembangkan kompetensi, kreativitas, karakter, dan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata. Pelatihan tenaga kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan yang berkembang. Perguruan tinggi perlu memperkuat riset dan inovasi. Pendidikan Islam perlu terus mengintegrasikan penguasaan ilmu dengan akhlak dan tanggung jawab sosial. Lebih penting lagi, masyarakat Kalimantan Timur harus dipersiapkan menjadi pelaku utama pembangunan IKN. Mereka harus memiliki akses yang adil terhadap pendidikan berkualitas, pelatihan, pekerjaan layak, kewirausahaan, dan kesempatan mengembangkan potensi diri.
Pada akhirnya, masa depan Nusantara tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, luasnya infrastruktur, atau besarnya investasi. Masa depan Nusantara ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelola, mengembangkan, dan menjaga keberlanjutannya. IKN yang maju harus dibangun oleh SDM yang unggul; SDM yang unggul harus dipersiapkan melalui pendidikan yang bermutu; dan pendidikan yang bermutu harus melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, berkarakter Pancasila, serta bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan kelestarian bumi. Inilah fondasi penting untuk menjadikan IKN sebagai pusat pertumbuhan baru yang tidak hanya membanggakan Indonesia, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kalimantan Timur dan seluruh rakyat Indonesia menuju Indonesia Emas 2045
Comments are closed.