UINSI Samarinda Menuju World Class Islamic University: Antara Ambisi, Kesiapan, dan Tantangan Transformasi
Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag (Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Pengurus Dewan Pendidikan Kalimantan Timur)
SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Perubahan status STAIN, ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda merupakan tonggak sejarah penting dalam perjalanan pendidikan tinggi Islam di Kalimantan Timur. Transformasi kelembagaan tersebut bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan sebuah amanah besar untuk meningkatkan kualitas akademik, memperluas spektrum keilmuan, memperkuat riset, dan meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional. Di tengah hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), posisi UINSI Samarinda menjadi semakin strategis. Sebagai satu-satunya Universitas Islam Negeri di Kalimantan Timur, UINSI diharapkan mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, kajian keislaman, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pembangunan nasional. Namun, pertanyaan mendasar yang patut diajukan adalah: apakah transformasi UINSI telah lebih menekankan kualitas akademik dan dampak riset daripada sekadar pencapaian indikator administratif? Pertanyaan ini bukan untuk meragukan berbagai capaian yang telah diraih, tetapi sebagai refleksi agar transformasi kelembagaan tidak berhenti pada pemenuhan target birokrasi, melainkan benar-benar menghasilkan perubahan substantif dalam mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Transformasi Universitas: Lebih dari Sekadar Perubahan Status
Dalam literatur manajemen pendidikan tinggi, perubahan status universitas hanya merupakan enabler, bukan tujuan akhir. Universitas berkelas dunia tidak dibangun oleh nama besar semata, tetapi oleh budaya akademik yang kuat, tata kelola yang baik, ekosistem riset yang produktif, jejaring internasional, dan lulusan yang memberi dampak nyata. Philip G. Altbach menegaskan bahwa universitas bereputasi global ditandai oleh tiga karakter utama: kualitas dosen dan mahasiswa, produktivitas riset, serta tata kelola yang mendukung kebebasan akademik dan inovasi. Dengan demikian, perubahan dari IAIN menjadi UINSI seharusnya dipahami sebagai titik awal transformasi menuju universitas riset (research university), bukan sekadar peningkatan status kelembagaan.
Roadmap Menuju World Class Islamic University
Menjadi World Class Islamic University bukan sekadar mengejar peringkat internasional, tetapi membangun universitas yang menghasilkan ilmu pengetahuan berkualitas, inovasi yang relevan, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Roadmap tersebut setidaknya perlu mencakup lima pilar utama.
- Keunggulan Akademik (Academic Excellence)
Mutu akademik merupakan fondasi utama universitas bereputasi internasional.
Keunggulan akademik tercermin melalui:
- kurikulum adaptif terhadap perkembangan ilmu;
- pembelajaran berbasis riset;
- integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI);
- penguatan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif;
- penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Universitas unggul tidak hanya menghasilkan lulusan yang cepat memperoleh pekerjaan, tetapi juga lulusan yang mampu menciptakan pekerjaan, menghasilkan inovasi, serta menjadi pemimpin perubahan.
Akreditasi Unggul: Instrumen, Bukan Tujuan
Akreditasi merupakan indikator penting dalam penjaminan mutu pendidikan tinggi. Namun demikian, akreditasi seharusnya dipandang sebagai konsekuensi dari budaya mutu, bukan tujuan yang berdiri sendiri. Sering kali institusi pendidikan tinggi terjebak dalam fenomena accreditation-oriented management, yaitu memobilisasi seluruh sumber daya menjelang asesmen tanpa menjadikan peningkatan mutu sebagai proses yang berlangsung terus-menerus. Transformasi yang berkelanjutan menuntut penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebagai budaya organisasi. Evaluasi diri, audit mutu, tindak lanjut, dan inovasi pembelajaran harus menjadi praktik sehari-hari, bukan aktivitas musiman.
Internasionalisasi: Lebih dari Sekadar MoU
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perguruan tinggi meningkatkan jumlah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) dengan berbagai universitas luar negeri. Kerja sama tersebut tentu merupakan langkah positif. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
- Berapa banyak penelitian bersama yang dihasilkan?
- Berapa banyak dosen yang terlibat dalam pertukaran akademik?
- Berapa banyak mahasiswa internasional yang belajar di kampus?
- Berapa banyak mata kuliah yang diajarkan bersama (joint teaching)?
- Berapa banyak publikasi internasional yang lahir dari kolaborasi tersebut?
Internasionalisasi bukan sekadar memperbanyak dokumen kerja sama, tetapi membangun aktivitas akademik lintas negara yang memberi dampak nyata.
Publikasi Scopus dan Budaya Riset
Produktivitas publikasi internasional sering dijadikan ukuran kualitas universitas.
Memang benar, publikasi pada jurnal bereputasi internasional merupakan salah satu indikator penting dalam berbagai pemeringkatan perguruan tinggi. Namun orientasi tersebut tidak boleh berhenti pada jumlah artikel semata. Riset yang berkualitas seharusnya:
- menjawab persoalan masyarakat;
- memberikan rekomendasi kebijakan;
- menghasilkan inovasi;
- mendorong hilirisasi hasil penelitian;
- memperkuat reputasi akademik universitas.
Publikasi yang berdampak lebih penting daripada publikasi yang hanya memenuhi kewajiban administratif. Karena itu, budaya riset perlu dibangun sejak jenjang sarjana melalui pelibatan mahasiswa dalam kelompok riset, laboratorium, dan proyek kolaboratif.
Kolaborasi Global sebagai Keniscayaan
Tidak ada universitas kelas dunia yang berkembang secara eksklusif. Kolaborasi global menjadi kebutuhan strategis. UINSI memiliki peluang besar membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di Asia Tenggara, Timur Tengah, Eropa, dan Australia, terutama pada bidang:
- studi Islam kontemporer;
- moderasi beragama;
- pendidikan Islam;
- ekonomi syariah;
- lingkungan hidup;
- masyarakat multikultural;
- pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Posisi geografis Kalimantan Timur memberikan peluang besar menjadikan UINSI sebagai pusat kajian Islam, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan masyarakat di kawasan timur Indonesia.
Penguatan Budaya Akademik, Transformasi universitas tidak hanya bergantung pada pembangunan gedung baru atau penambahan program studi. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya akademik. Budaya akademik ditandai oleh:
- diskusi ilmiah yang hidup;
- seminar rutin;
- tradisi membaca;
- tradisi menulis;
- kebebasan berpikir yang bertanggung jawab;
- penghargaan terhadap integritas ilmiah;
- kolaborasi multidisiplin.
Universitas yang memiliki budaya akademik kuat akan terus menghasilkan inovasi meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Tantangan Nyata yang Perlu Dijawab
Menuju universitas bereputasi internasional tentu tidak lepas dari berbagai tantangan.
Pertama, kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kompetensi dosen dalam metodologi penelitian, bahasa asing, publikasi internasional, dan pemanfaatan AI menjadi kebutuhan yang mendesak. Kedua, pendanaan riset. Penelitian berkualitas memerlukan dukungan pembiayaan yang memadai serta sistem insentif yang mendorong kolaborasi dan inovasi. Ketiga, digitalisasi kampus. Transformasi digital bukan sekadar menyediakan platform pembelajaran daring, tetapi membangun ekosistem digital yang terintegrasi untuk layanan akademik, penelitian, administrasi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Keempat, jejaring internasional. Internasionalisasi memerlukan investasi jangka panjang melalui mobilitas dosen dan mahasiswa, program gelar bersama (joint degree), penelitian kolaboratif, serta keterlibatan dalam jaringan akademik global.
Kritik Konstruktif: Antara Administrasi dan Substansi
Dalam berbagai proses transformasi perguruan tinggi, sering muncul kecenderungan bahwa keberhasilan lebih banyak diukur melalui indikator administratif:
- jumlah MoU;
- jumlah kegiatan seremonial;
- jumlah program studi;
- jumlah dokumen mutu;
- jumlah laporan kinerja.
Semua indikator tersebut memang penting sebagai bagian dari tata kelola. Namun, apabila tidak diikuti dengan peningkatan kualitas akademik, produktivitas riset, kualitas lulusan, dan dampak pengabdian kepada masyarakat, transformasi akan kehilangan substansinya. Karena itu, ukuran keberhasilan sebaiknya mulai bergeser menuju indikator yang lebih bermakna, antara lain:
- kualitas pembelajaran;
- kepuasan mahasiswa;
- daya saing lulusan;
- dampak sosial hasil penelitian;
- sitasi ilmiah;
- inovasi yang dimanfaatkan masyarakat;
- kontribusi terhadap pembangunan Kalimantan Timur dan Ibu Kota Nusantara.
Transformasi sejati adalah transformasi yang mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan budaya organisasi, bukan hanya menghasilkan lebih banyak dokumen.
Strategi Akselerasi Menuju World Class Islamic University
Untuk mempercepat transformasi, beberapa strategi berikut layak diprioritaskan:
- Menyusun roadmap internasionalisasi berbasis indikator kinerja yang terukur dan berorientasi dampak.
- Memperkuat pusat-pusat unggulan (center of excellence) yang fokus pada studi Islam, masyarakat multikultural, ekonomi syariah, lingkungan, serta kajian IKN.
- Membangun sistem insentif yang mendukung publikasi bereputasi, paten, dan inovasi yang dapat dihilirisasikan.
- Mengembangkan kepemimpinan akademik yang menempatkan mutu sebagai budaya organisasi, bukan sekadar target tahunan.
- Memperluas program visiting professor, postdoctoral fellowship, joint research, dan student mobility dengan perguruan tinggi bereputasi internasional.
- Memanfaatkan kecerdasan buatan secara etis untuk mendukung pembelajaran, analisis data penelitian, dan tata kelola universitas.
- Menjadikan UINSI sebagai mitra strategis pemerintah daerah, Otorita IKN, dunia usaha, dan masyarakat dalam menghasilkan kebijakan berbasis riset.
Penutup
Perjalanan menuju World Class Islamic University merupakan proses panjang yang memerlukan visi yang jelas, kepemimpinan yang kuat, budaya akademik yang kokoh, serta komitmen seluruh sivitas akademika. Transformasi UINSI Samarinda hendaknya tidak hanya diukur dari peningkatan status kelembagaan, jumlah program studi, atau capaian administratif. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika universitas mampu menghasilkan lulusan yang unggul, penelitian yang berdampak, inovasi yang bermanfaat, serta menjadi rujukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Di tengah transformasi Kalimantan Timur sebagai wilayah penyangga sekaligus bagian penting dari ekosistem Ibu Kota Nusantara, UINSI memiliki peluang historis untuk memainkan peran strategis. Tantangannya bukan sekadar menjadi universitas yang lebih besar, tetapi menjadi universitas yang lebih bermutu, lebih berpengaruh, dan lebih relevan bagi masyarakat Indonesia maupun dunia.
Pada akhirnya, predikat World Class Islamic University tidak diperoleh karena banyaknya slogan atau dokumen perencanaan, melainkan karena konsistensi membangun mutu akademik, memperkuat budaya riset, menjunjung tinggi integritas ilmiah, serta menghadirkan manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Allahu a’lam
Comments are closed.