Reorientasi Penanaman Adab Santri Pondok Pesantren

Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag. Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI, Asesor LAMDIK RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur

SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Pondok pesantren sejak dahulu dikenal bukan hanya sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kepribadian, akhlak, kedisiplinan, kemandirian, dan keteladanan. Pesantren memiliki tradisi pendidikan yang menempatkan adab sebelum ilmu, karena ilmu tanpa adab dapat kehilangan arah dan bahkan berpotensi disalahgunakan.

Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, pesantren menghadapi tantangan baru. Santri dan santriwati hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia pesantren yang menekankan kedisiplinan, kesederhanaan, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta dunia digital yang menawarkan kebebasan informasi, ekspresi, dan interaksi tanpa batas.

Persoalannya bukan apakah teknologi harus dijauhi. Justru pesantren perlu membekali santri agar mampu menggunakan teknologi secara cerdas, produktif, dan beradab. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar penanaman adab, melainkan reorientasi penanaman adab agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Reorientasi berarti mengembalikan pendidikan kepada tujuan dasarnya sekaligus memperbarui pendekatan, metode, dan lingkungan pendidikannya.

Adab sebagai Ruh Pendidikan Pesantren

Dalam tradisi pendidikan Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat fundamental. Rasulullah SAW bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad). Hadis tersebut menunjukkan bahwa pembentukan akhlak merupakan bagian penting dari misi kenabian. Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya keteladanan Rasulullah SAW:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21). Dengan demikian, pendidikan pesantren tidak boleh berhenti pada kemampuan santri membaca kitab, menghafal Al-Qur’an, memahami hadis, atau memperoleh prestasi akademik. Semua itu harus bermuara pada terbentuknya manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, mandiri, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Mengapa Adab Perlu Direorientasi?

Ada beberapa alasan mengapa penanaman adab di pesantren perlu direorientasi. Pertama, perubahan karakter generasi. Santri masa kini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka merupakan generasi yang akrab dengan internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan komunikasi digital.

Kedua, perubahan bentuk interaksi sosial. Dahulu persoalan adab lebih banyak terjadi dalam interaksi langsung. Kini adab juga harus hadir dalam ruang digital: bagaimana menulis komentar, menyampaikan kritik, membagikan informasi, menghormati privasi, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Ketiga, tantangan budaya instan. Era digital membentuk kebiasaan memperoleh sesuatu secara cepat. Padahal pendidikan membutuhkan proses, kesabaran, ketekunan, mujahadah, dan konsistensi.

Keempat, ancaman degradasi keteladanan. Santri dapat menerima banyak figur teladan dari media sosial. Karena itu, pesantren harus memastikan bahwa kyai, ustaz, ustazah, musyrif, dan seluruh tenaga kependidikan tetap menjadi figur yang hidup dan nyata dalam pembentukan karakter santri.

Dari “Adab kepada Guru” Menuju “Ekosistem Adab”

Reorientasi pendidikan adab tidak cukup dilakukan dengan menambah mata pelajaran akhlak. Adab harus menjadi budaya pesantren. Adab kepada guru tetap menjadi fondasi. Namun, cakupannya perlu diperluas menjadi adab kepada Allah, Rasulullah, Al-Qur’an, ilmu, guru, orang tua, sesama santri, lingkungan, bangsa, dan teknologi. Santri perlu dibiasakan memahami bahwa menghormati guru bukan sekadar mencium tangan atau berbicara dengan sopan. Lebih jauh, penghormatan terhadap guru diwujudkan melalui kesungguhan belajar, menerima nasihat, menjaga nama baik lembaga, serta mengamalkan ilmu. Demikian pula, adab kepada sesama santri tidak cukup hanya dengan tidak bertengkar. Santri harus memiliki kesadaran untuk tidak melakukan bullying, body shaming, penghinaan, perundungan digital, penyebaran aib, dan ujaran kebencian. Dengan demikian, pesantren harus bergerak dari konsep “adab sebagai aturan” menuju “adab sebagai kesadaran.”

Lima Pilar Reorientasi Adab Santri

Menurut penulis, terdapat lima pilar penting yang perlu dikembangkan.

  1. Adab Spiritual

Santri harus memiliki hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, tahajud, puasa, dan berbagai ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi sarana membentuk kesadaran bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Allah.Tujuan akhirnya adalah melahirkan santri yang memiliki kesalehan spiritual sekaligus kesalehan sosial.

  1. Adab terhadap Ilmu

Santri harus diajarkan bahwa ilmu bukan sekadar alat memperoleh nilai atau ijazah. Ilmu adalah amanah. Karena itu, santri harus memiliki tradisi membaca, bertanya, berdiskusi, melakukan tabayyun, menghargai perbedaan pendapat, mencantumkan sumber, dan tidak melakukan plagiarisme. Di era kecerdasan buatan, adab terhadap ilmu menjadi semakin penting. Santri harus menggunakan AI sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir.

  1. Adab Sosial

Pesantren merupakan miniatur masyarakat. Kehidupan bersama harus menjadi laboratorium pembentukan karakter. Santri perlu dilatih untuk menghormati perbedaan, bekerja sama, membantu teman, menyelesaikan konflik secara damai, menjaga kebersihan, antre, berbagi, dan bertanggung jawab terhadap tugas. Di sinilah pesantren dapat membangun karakter ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.

  1. Adab Digital

Inilah dimensi yang semakin penting. Santri harus memahami bahwa jari juga mempunyai adab. Sebelum mengunggah sesuatu, perlu bertanya: apakah benar, baik, bermanfaat, dan pantas disebarluaskan? Prinsip tabayyun harus menjadi budaya digital santri. Informasi tidak boleh langsung diterima dan disebarkan tanpa verifikasi. Santri harus menjadi generasi yang mampu berkata: “Saya bisa menggunakan teknologi, tetapi teknologi tidak boleh mengendalikan saya.”

  1. Adab terhadap Lingkungan

Pesantren juga harus mengembangkan eco-adab, yaitu adab terhadap lingkungan. Membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, merawat tanaman, menjaga kebersihan kamar dan asrama, mengurangi penggunaan plastik, serta mengembangkan pesantren hijau merupakan bagian dari pendidikan Islam. Menjaga lingkungan pada hakikatnya merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia di muka bumi.

 

 

Keteladanan Lebih Kuat daripada Ceramah

Penanaman adab tidak akan efektif apabila hanya dilakukan melalui ceramah. Santri akan lebih mudah belajar adab melalui keteladanan. Jika guru ingin santri disiplin, guru harus menunjukkan kedisiplinan. Jika guru ingin santri santun, guru harus menunjukkan kesantunan. Jika guru menginginkan santri menjaga kebersihan, seluruh warga pesantren harus memberikan contoh. Dalam konteks ini, pesantren membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai “kurikulum keteladanan.” Kurikulum keteladanan berarti setiap aktivitas di pesantren, bangun tidur, ibadah, belajar, makan, berorganisasi, berkomunikasi, menggunakan gawai, hingga kembali ke asrama—menjadi proses pendidikan karakter.

Jangan Hanya Menghukum, tetapi Mendidik

Reorientasi adab juga menuntut perubahan pendekatan disiplin. Pelanggaran terhadap tata tertib memang harus mendapatkan konsekuensi. Namun, konsekuensi tersebut harus bersifat edukatif, bukan sekadar represif. Santri yang melakukan kesalahan perlu diajak memahami: Apa kesalahannya? Mengapa itu salah? Siapa yang dirugikan? Bagaimana memperbaikinya? Dan bagaimana agar kesalahan tersebut tidak terulang? Pendekatan seperti ini mengubah hukuman menjadi proses pertobatan, refleksi, dan pembelajaran karakter. Tujuannya bukan membuat santri takut kepada aturan, tetapi membuat santri memiliki kesadaran untuk melakukan kebaikan meskipun tidak sedang diawasi.

Sinergi Kyai, Guru, Orang Tua, dan Santri

Penanaman adab tidak dapat dibebankan kepada pesantren semata. Orang tua memiliki peran sangat strategis. Nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren harus mendapatkan penguatan ketika santri pulang ke rumah. Demikian pula, pesantren perlu membangun komunikasi yang sehat dengan orang tua mengenai perkembangan akademik, spiritual, sosial, dan karakter santri. Dengan demikian, pendidikan adab menjadi tanggung jawab bersama: Kyai memberi teladan dan arah, guru membimbing, orang tua menguatkan, lingkungan membiasakan, dan santri menyadari serta mengamalkannya.

Santri Berprestasi Sekaligus Beradab

Pesantren tidak perlu mempertentangkan antara prestasi akademik dan adab. Keduanya harus berjalan beriringan. Santri ideal bukan hanya santri yang memperoleh juara olimpiade, hafal banyak juz, menguasai bahasa Arab dan Inggris, atau mampu berbicara di depan publik. Santri ideal adalah mereka yang memiliki ilmu sekaligus adab; kecerdasan sekaligus kebijaksanaan; kemampuan digital sekaligus tanggung jawab moral; keberanian sekaligus kerendahan hati. Inilah profil santri yang dibutuhkan Indonesia masa depan.

Penutup: Mengembalikan Adab sebagai Jantung Pesantren

Pada akhirnya, reorientasi penanaman adab santri/santriwati bukan berarti meninggalkan tradisi pesantren. Sebaliknya, reorientasi merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali ruh pesantren dalam konteks zaman yang terus berubah. Pesantren harus tetap menjadi tempat lahirnya generasi yang mencintai ilmu, menghormati ulama, berbakti kepada orang tua, menyayangi sesama, mencintai bangsa dan negara, menjaga lingkungan, serta mampu menghadapi perkembangan teknologi secara kritis dan beretika. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan pesantren tidak semata-mata dapat dilihat dari berapa banyak ilmu yang dikuasai santri, tetapi juga dari seberapa baik ilmu tersebut membentuk perilaku dan memberi manfaat bagi kehidupan.

Santri masa depan harus menjadi generasi Qur’ani, beradab, moderat, literat, digital, ekologis, dan Pancasilais. Jika ilmu adalah cahaya, maka adab adalah arah yang memastikan cahaya tersebut digunakan untuk menerangi kehidupan. Pesantren boleh modern dalam teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan adab. Santri boleh mendunia dalam kompetensi, tetapi harus tetap membumi dalam akhlak. Dan pada akhirnya, masa depan pesantren bukan hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitasnya, tetapi oleh keberhasilannya melahirkan manusia yang berilmu, beradab, dan bermanfaat. Allahu a’lam.

 

Bagikan

Comments are closed.