SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Forum Doktor HILMI Kalimantan Timur (HILMI Kaltim) kembali menggelar diskusi ilmiah bertajuk “Kebangkitan Nasional: Antara Cita-cita dan Realita” dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung pada Rabu malam di Kampus Gedung B.STIMI 21 Mei 2025
Acara yang dimulai pukul 20.00 WITA ini menghadirkan sejumlah akademisi, dosen, dan pemikir Muslim dari berbagai bidang keilmuan untuk membedah realita kebangkitan nasional dan arah perubahan ke depan.
Kegiatan dibuka oleh moderator, apt. Heri Wijaya, M.Si., Ph.D, yang menyampaikan sambutan serta membacakan susunan acara. Dalam pengantarnya, Heri menekankan bahwa diskusi ini akan berfokus pada pendekatan berbasis data, fakta, dan analisis akademik sebagai upaya membangun solusi konkret terhadap problematika kebangsaan. Selanjutnya, Ketua HILMI Kaltim, Ustadz Yuslie, S.Pd., M.Pd, dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antar-akademisi untuk menyatukan visi dalam membangun peradaban dan menghidupkan kembali semangat kebangkitan nasional dari perspektif keilmuan dan keimanan.
Sesi pemantik diskusi diisi oleh Dr. Bejo Santosa, S.E., M.M, yang mengangkat pertanyaan mendasar: “Apakah kita sudah bangkit?” Dalam paparannya, Bejo menyuguhkan berbagai fakta sosial, politik, hukum, dan ekonomi yang menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.
Ia menyoroti ketimpangan sosial yang terus melebar, penegakan hukum yang tumpul ke atas, serta dominasi asing dalam sektor ekonomi. Bejo menekankan bahwa kebangkitan tidak bisa sekadar menjadi slogan, tetapi harus tercermin dari kebijakan negara dan kesadaran rakyat yang menyeluruh.
Diskusi inti FGD yang berlangsung selama lebih dari satu jam menghadirkan ragam pandangan kritis dari para peserta. La Saudi, S.E., M.E menyampaikan pentingnya kembali pada semangat kedaulatan bangsa. Dr. apt. Eka Siswanto, M.Sc menyoroti isu-isu mendasar seperti akses pendidikan, kemandirian kesehatan, budaya korupsi, serta lemahnya penegakan hukum dan pemanfaatan teknologi informasi. Sementara itu, Dr. Junaidin, S.E., M.Si menyoroti ketimpangan ekonomi yang dihadapi UMKM akibat dominasi ritel besar, serta stigma negatif terhadap wacana Islam.

Dalam pandangan Dr. Rolan Rusli, M.Si, sistem politik saat ini telah kehilangan keberkahan karena kuatnya unsur transaksional dalam pemilu. Ia menyerukan perlunya reformasi sistem politik. Dr. Novel Reonald, M.M menyoroti peran ormas besar yang dinilainya justru menghambat kebangkitan, serta menyampaikan bahwa kebangkitan Islam adalah alternatif yang relevan untuk masa depan. Mahfuzun Bone, S.Farm., M.Si mengkritisi lemahnya karakter individu sebagai penyebab utama stagnasi kebangsaan, meski sistem ekonomi dan hukum sudah tersedia.
Agus Junaidi menyampaikan bahwa kebangkitan Indonesia sulit terwujud selama korupsi dan ketidakadilan hukum masih merajalela. Dr. Alfianto, S.E., M.Si mengajak untuk memulai kebangkitan dari kesadaran individu, sembari menyoroti beban utang negara yang telah mencapai 8 ribu triliun rupiah. Pandangan kritis juga datang dari Purwadi, M.Si yang menyebut bahwa bangsa ini seperti berjalan di tempat tanpa arah makro yang jelas, serta adanya dominasi pemodal yang memperkuat status quo.
Mohammad Fikri, SKM., M.P.H menyoroti rendahnya kesadaran kolektif sebagai hambatan kebangkitan, menyebut kondisi Indonesia saat ini dalam situasi “gelap”. apt. Jaka Fadreasada, M.Farm-Klin., Ph.D mempertanyakan mengapa negara-negara non-Muslim lebih dahulu mengalami kebangkitan dan kemajuan. Sementara itu, Muhammad Aidil Fitrah, M.K.M mengingatkan bahwa salah satu hak dasar manusia adalah akses terhadap layanan kesehatan yang layak. Muh. Amri Arfandi, M.K.M menyoroti sistem politik berbasis setoran dan pendidikan yang hanya fokus pada kecerdasan akademik, bukan karakter.
Sesi pembahasan utama disampaikan oleh Ustadz Rudi Harianto, M.Pd yang membahas secara mendalam tentang konsep kebangkitan dalam Islam. Ia menjelaskan empat poin kunci, yakni definisi kebangkitan sebagai perubahan menyeluruh menuju kebaikan, pemahaman tentang uqdatul qubra (ikatan besar) yang harus dipecahkan umat, ajakan untuk kembali kepada Allah sebagai sumber kekuatan sejati, serta pentingnya memahami dan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam seluruh aspek kehidupan.

Acara ditutup pada pukul 22.00 WITA oleh moderator, yang menyampaikan bahwa hasil diskusi ini akan dirumuskan menjadi naskah akademik dan rekomendasi kebijakan sebagai bentuk kontribusi nyata para intelektual Muslim terhadap pembangunan bangsa. Panitia Forum Doktor HILMI Kaltim berharap forum semacam ini dapat menjadi ruang berkelanjutan bagi para pemikir dan akademisi untuk menyuarakan gagasan strategis demi perbaikan kondisi Indonesia ke depan.
Dengan semangat sinergi keilmuan dan keimanan, FGD ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan cita-cita kebangkitan nasional yang tidak hanya bersandar pada mimpi, tetapi juga pada kerja nyata dan kesadaran kolektif.(Eka Siswanto)
Comments are closed.