Pendidikan Gratis Bukan Jaminan Mutu, Saatnya Beralih dari Kuantitas ke Kualitas
Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag (Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Pengurus Dewan Pendidikan Kalimantan Timur)
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai pemerintah daerah di Indonesia berlomba menghadirkan program pendidikan gratis. Di Kalimantan Timur, misalnya, muncul berbagai kebijakan yang bertujuan meringankan beban masyarakat melalui sekolah gratis, seragam gratis, hingga program kuliah gratis. Kebijakan tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam memperluas akses pendidikan dan mengurangi hambatan ekonomi bagi masyarakat.
Namun demikian, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah pendidikan gratis secara otomatis menghasilkan pendidikan yang bermutu?, Jawabannya tentu tidak sesederhana “ya”. Pendidikan gratis memang mampu meningkatkan akses dan mengurangi angka putus sekolah, tetapi mutu pendidikan ditentukan oleh jauh lebih banyak faktor dibanding sekadar pembebasan biaya.
Kebijakan nasional pun menempatkan perluasan akses dan peningkatan mutu sebagai dua tujuan yang harus berjalan bersamaan, bukan saling menggantikan. Jika orientasi pembangunan pendidikan hanya berhenti pada jumlah peserta didik yang bersekolah, maka pendidikan berpotensi menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah tetapi belum memiliki kompetensi yang memadai. Oleh karena itu, saatnya paradigma pembangunan pendidikan bergeser dari “berapa banyak anak yang sekolah” menuju “seberapa berkualitas proses dan hasil belajar mereka.”
Pendidikan Gratis: Prestasi Kebijakan yang Patut Diapresiasi
Tidak dapat dipungkiri bahwa kebijakan pendidikan gratis memiliki sejumlah manfaat strategis. Pertama, kebijakan tersebut memperluas akses pendidikan bagi keluarga berpenghasilan rendah. Kedua, beban ekonomi rumah tangga menjadi lebih ringan sehingga risiko putus sekolah dapat ditekan. Ketiga, kebijakan ini memperkuat komitmen negara dalam mewujudkan hak konstitusional warga negara untuk memperoleh pendidikan. Berbagai program bantuan pendidikan juga dirancang untuk mendukung wajib belajar dan memastikan peserta didik dari keluarga kurang mampu tetap dapat mengakses layanan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan gratis merupakan instrumen pemerataan kesempatan, bukan tujuan akhir pembangunan pendidikan.
Mengapa Pendidikan Gratis Belum Menjamin Mutu?
Mutu pendidikan tidak lahir dari kebijakan pembebasan biaya semata. Ia merupakan hasil dari ekosistem pendidikan yang sehat.
- Guru Masih Menjadi Faktor Penentu
Tidak ada sekolah hebat tanpa guru hebat. Sekolah dapat memiliki gedung megah, laboratorium lengkap, serta fasilitas digital modern, tetapi apabila kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian guru tidak berkembang, maka kualitas pembelajaran tetap stagnan. Investasi terbesar pendidikan sesungguhnya bukan pada bangunan sekolah, melainkan pada pengembangan kualitas guru.
- Kualitas Pembelajaran Belum Menjadi Fokus Utama
Masih banyak proses pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian kurikulum daripada membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), siswa tidak cukup hanya mampu menghafal materi, tetapi juga harus mampu menganalisis, memecahkan masalah, beradaptasi, dan belajar sepanjang hayat.
- Ketimpangan Antarwilayah
Di Kalimantan Timur, kesenjangan mutu pendidikan antara kawasan perkotaan dan wilayah terpencil masih menjadi tantangan. Sekolah/madrasah di Samarinda, Balikpapan, atau Bontang memiliki akses fasilitas dan tenaga pendidik yang relatif lebih baik dibanding sebagian sekolah di Mahakam Ulu, Kutai Barat, atau daerah pedalaman lainnya. Pendidikan gratis tidak otomatis menghapus ketimpangan kualitas tersebut.
- Infrastruktur Belum Sepenuhnya Mendukung
Masih terdapat sekolah yang menghadapi keterbatasan laboratorium, perpustakaan, akses internet, ruang kelas layak, maupun perangkat pembelajaran digital. Akibatnya, proses belajar belum mampu mengembangkan kompetensi abad ke-21 secara optimal.
- Sistem Evaluasi Masih Berorientasi Administrasi
Keberhasilan pendidikan sering diukur dari besarnya serapan anggaran, jumlah siswa yang diterima, atau angka partisipasi sekolah. Padahal indikator yang lebih penting adalah:
- kemampuan literasi;
- numerasi;
- karakter;
- kreativitas;
- daya saing lulusan;
- kemampuan kerja;
- kesiapan menghadapi perubahan global.
Pergeseran Paradigma: Dari Kuantitas Menuju Kualitas, Pendidikan Indonesia memerlukan perubahan paradigma yang mendasar. Paradigma lama bertanya: “Berapa banyak siswa yang berhasil masuk sekolah?” Paradigma baru seharusnya bertanya: “Apa yang benar-benar dipelajari siswa selama berada di sekolah?” Perubahan ini menuntut indikator keberhasilan pendidikan yang lebih komprehensif, seperti:
- peningkatan kualitas pembelajaran;
- peningkatan kompetensi guru;
- budaya belajar yang kuat;
- inovasi pembelajaran;
- kepemimpinan kepala sekolah;
- kepuasan masyarakat;
- keberhasilan lulusan di perguruan tinggi maupun dunia kerja.
Strategi Alternatif Solusinya:
- Mengubah Prioritas Anggaran, Pendidikan gratis tetap dipertahankan, tetapi sebagian investasi diarahkan pada peningkatan mutu. Prioritas meliputi:
- pelatihan guru berkelanjutan;
- sertifikasi kompetensi;
- digitalisasi sekolah;
- laboratorium modern;
- perpustakaan digital;
- media pembelajaran berbasis AI.
- Membangun Ekosistem Guru Pembelajar, Guru perlu didorong menjadi pembelajar sepanjang hayat melalui:
- komunitas belajar;
- penelitian tindakan kelas;
- publikasi ilmiah;
- microcredential;
- kolaborasi dengan perguruan tinggi.
- Memperkuat Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kepala sekolah harus menjadi pemimpin pembelajaran (instructional leader), bukan sekadar administrator. Keberhasilan sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan kepala sekolah dalam membangun budaya mutu.
- Reformasi Sistem Penjaminan Mutu, Penjaminan mutu internal harus menjadi budaya sekolah, bukan sekadar memenuhi dokumen akreditasi. Evaluasi harus lebih banyak menilai dampak pembelajaran terhadap perkembangan peserta didik.
- Pemerataan Mutu Antarwilayah, Pemerintah daerah perlu menerapkan kebijakan afirmatif bagi sekolah terpencil melalui:
- redistribusi guru;
- insentif daerah khusus;
- pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi;
- kemitraan antarsekolah.
- Memperkuat Literasi dan Numerasi, Program literasi tidak cukup diwujudkan melalui gerakan membaca lima belas menit. Literasi harus menjadi budaya akademik yang terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran.
- Mengintegrasikan AI dan Transformasi Digital, Sekolah perlu memanfaatkan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab untuk:
- pembelajaran adaptif;
- asesmen formatif;
- analisis perkembangan belajar;
- administrasi akademik yang lebih efisien.
- Membangun Kemitraan Pendidikan, Mutu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, komite sekolah, dan orang tua perlu diperkuat agar kebijakan pendidikan tidak hanya berhenti pada pembiayaan, tetapi juga menghasilkan peningkatan kualitas proses belajar.
Refleksi bagi Kalimantan Timur, Sebagai daerah penyangga sekaligus lokasi Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur memiliki peluang besar menjadi laboratorium pendidikan unggul di Indonesia. Program pendidikan gratis hendaknya dipandang sebagai fondasi awal, bukan garis akhir. Keberhasilan pembangunan pendidikan di Kalimantan Timur kelak tidak hanya diukur dari banyaknya siswa yang menikmati layanan pendidikan tanpa biaya, tetapi juga dari lahirnya generasi yang berkarakter, berdaya saing global, menguasai teknologi, dan mampu menjadi pelaku utama pembangunan daerah. Pendidikan yang bermutu akan menjadi modal utama agar masyarakat lokal tidak hanya menyaksikan transformasi akibat pembangunan, tetapi juga menjadi penggerak utama perubahan tersebut.
Penutup
Pendidikan gratis adalah kebijakan yang penting karena membuka pintu kesempatan. Namun, kesempatan tanpa kualitas hanya akan menghasilkan lulusan yang belum siap menghadapi tantangan zaman. Tantangan pendidikan abad ke-21 bukan lagi sekadar memastikan setiap anak duduk di bangku sekolah, melainkan memastikan setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dan menghasilkan kompetensi yang relevan. Sudah saatnya keberhasilan pendidikan diukur bukan hanya dari berapa banyak anggaran yang dibelanjakan atau berapa banyak peserta didik yang terdaftar, tetapi dari seberapa besar perubahan yang terjadi pada kualitas manusia yang dihasilkan. Dengan demikian, pendidikan gratis tidak berhenti sebagai kebijakan populis, melainkan menjadi jalan menuju pendidikan bermutu, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi Indonesia. Allahu a’lam.
Comments are closed.