Mengapa Jutaan Orang Mau Menghadiri Haul Guru Sekumpul? Riset Berikut ini Jawabannya

(AMANAH UMMAT.Com) FenomenaHaul Guru Sekumpuldi Martapura, Kalimantan Selatan, bukan sekadar peringatan biasa, melainkan magnet spiritual yang mampu menarik jutaan jamaah dari berbagai penjuru Nusantara bahkan mancanegara setiap tahunnya. Tradisi ini bak gelombang besar yang tak pernah surut, mengingat jutaan jamaah hadir tumpah ruah di sekitar Mushola Ar-Raudhah setiap 5 Rajab 1447 Hijriah.

Dalam artikel ilmiah Ahdiyatul Hidayah yang berjudul KH Zaini Bin Abdul Ghani Haul’s Tradition and Its Implication on Promoting Alms in Banjar, South Kalimantan (JIQTA: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir), haul Guru Sekumpul dianalisis sebagai tradisi yang memiliki makna teologis dan sosial yang dalam. Tradisi ini dipahami jamaah bukan sekadar ritual belaka, tetapi sebagai sarana tawasul dan doa bersama kepada Guru Sekumpul sebagai ulama karismatik yang telah banyak memberi teladan.

Hidayah menekankan haul sebagai bentuk ekspresi cinta dan rasa rindu jamaah terhadap ajaran hidup Guru Sekumpul, ajaran yang telah menjadi nafas spiritual masyarakat Banjar dan komunitas Muslim luas. Perayaan ini menjadi waktu di mana jamaah merasa tersentuh secara batin melalui bacaan sholawat, tahlil, dan manaqib yang dipimpin bersama.

Rasa cinta yang mendalam ini juga dibahas oleh Triogi Wulandari dalam Pengaruh Haul Abah Guru Sekumpul serta Keteladanannya bagi Masyarakat Kalimantan Selatan (JAMPARING: Jurnal Akuntansi Manajemen Pariwisata dan Pembelajaran Konseling).

Padat, Hadiri Haul Guru Sekumpul/Istimewa

Wulandari dan kolega menunjukkan bahwa haul Guru Sekumpul menguatkan solidaritas sosial, membentuk hubungan emosional yang kuat antar jamaah dan komunitas, sehingga banyak orang merasa haul ini adalah ruang untuk merasakan kembali nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Solidaritas sosial yang dimaksud bukan sekadar hadir di tempat yang sama, tetapi interaksi sosial yang intens antara jamaah, mulai dari berbagi makanan, membantu sesama dalam kerumunan, hingga bekerja bersama sebagai relawan yang melayani jutaan jamaah dengan penuh kerelaan. Rasa kebersamaan ini membuat haul menjadi fenomena sosial yang tak ingin dilewatkan oleh banyak orang.

Selain dimensi sosial, haul Guru Sekumpul juga dilihat sebagai transformasi spiritual yang signifikan. Dalam tulisan “Transformasi Spiritual dalam Haul Wali…” (Kalimah: Jurnal Studi Agama-Agama dan Pemikiran Islam), penulis menyoroti bagaimana haul menjadi momen di mana jamaah mengalami perubahan batin dan peningkatan kesalehan, serta rasa persaudaraan yang kuat di antara mereka, sebagai refleksi dari ajaran yang Guru Sekumpul tinggalkan.

Transformasi spiritual ini menjadikan haul bukan sekadar ritual tahunan, tetapi pengalaman batiniah yang dirasakan secara personal oleh setiap jamaah. Mereka datang dengan hati yang haus akan keberkahan, doa, dan ketenangan jiwa, sehingga haul menjadi momen penting dalam perjalanan spiritual setiap individu.

Faktor lain yang memperkuat daya tarik haul Guru Sekumpul adalah keteladanan hidup beliau sendiri sebagai ulama besar yang hidup sederhana, dekat dengan masyarakat, serta dikenal memberi nasehat tanpa henti. Dalam tradisi Banjar, keteladanan ulama dihormati sebagai teladan hidup yang nyata, bukan sekadar kata.

Haul juga merepresentasikan warisan nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Acara ini melampaui batas geografis, membawa jamaah dari pulau lain bahkan luar negeri untuk berkumpul bersama dalam suasana yang khidmat dan damai. Daya tarik ini bukan hanya spiritual, tetapi juga budaya yang mengikat berbagai komunitas Muslim dalam satu tradisi besar.

Analisis lain dari studi yang dipublikasikan menunjukkan bahwa haul Guru Sekumpul menjadi magnet komunitas global karena jamaah merasa haul ini menyediakan ruang untuk penguatan identitas keagamaan yang autentik dan kolektif, suatu pengalaman yang langka di tengah kehidupan modern yang cepat dan individualistik.

Fakta bahwa haul Guru Sekumpul dapat dihadiri jutaan jamaah setiap tahunnya membuktikan bahwa tradisi ini bukan fenomena sementara, tetapi telah menjadi bagian dari kalender keagamaan yang ditunggu-tunggu. Jumlah jamaah yang terus meningkat setiap tahun menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ditinggalkan Guru Sekumpul terus menyentuh hati dan kehidupan banyak orang.(Sumber Republika)

 

Bagikan

Comments are closed.