Formulasi  Mengatasi Ancaman Degradasi Lingkungan Persfektif Pendidikan Islam

Oleh: /Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag./Dosen Pascasarjana UINSI Samarinda, Maheswara Utama BPIP RI, Asesor LAMDIK RI, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur

SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Lingkungan hidup hari ini menghadapi ancaman yang semakin kompleks. Kerusakan hutan, pencemaran air dan udara, sampah, kebakaran hutan dan lahan, perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, hingga menurunnya keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan lagi sekadar persoalan ekologis, tetapi telah menjadi persoalan kemanusiaan, sosial, ekonomi, bahkan moral. Dalam konteks tersebut, pendidikan Islam memiliki posisi strategis. Pendidikan Islam tidak cukup hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan antarmanusia, tetapi juga harus membangun kesadaran tentang hubungan manusia dengan alam. Dengan demikian, pendidikan Islam perlu mengembangkan paradigma tauhid–manusia–alam, bahwa manusia adalah makhluk Allah SWT yang hidup dalam satu kesatuan ekosistem dan diberi amanah untuk menjaga, bukan merusak, bumi.

Krisis Lingkungan adalah Krisis Moral

Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat tersebut memberikan perspektif penting bahwa kerusakan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia. Ketika hutan ditebang tanpa mempertimbangkan keberlanjutan, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, laut dipenuhi sampah, energi digunakan secara berlebihan, dan sumber daya alam dieksploitasi tanpa batas, persoalannya bukan semata-mata persoalan teknologi. Ada persoalan kesadaran, etika, tanggung jawab, dan moralitas. Karena itu, menghadapi degradasi lingkungan tidak cukup hanya dengan pendekatan teknis. Kita membutuhkan revolusi kesadaran ekologis melalui pendidikan.

Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Pendidikan Islam memiliki fondasi teologis yang kuat untuk membangun kesadaran ekologis. Allah SWT berfirman: إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30). Konsep khalifah tidak semestinya dimaknai sebagai legitimasi manusia untuk mengeksploitasi alam sesuka hati. Sebaliknya, kekhalifahan mengandung konsekuensi amanah. Manusia diberikan kemampuan berpikir, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan mengelola sumber daya alam. Namun semua itu harus digunakan untuk kemaslahatan. Dengan demikian, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin tinggi pula tanggung jawab ekologisnya. Ilmu tanpa tanggung jawab lingkungan dapat berubah menjadi alat eksploitasi. Dari Pendidikan tentang Lingkungan Menuju Pendidikan Berwawasan Lingkungan Selama ini pendidikan lingkungan terkadang ditempatkan sebagai materi tambahan. Padahal, persoalan lingkungan seharusnya menjadi bagian integral dari proses pendidikan. Peserta didik tidak cukup mengetahui bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya. Mereka perlu memahami mengapa sampah menjadi persoalan ekologis, bagaimana sampah memengaruhi kehidupan manusia, dan apa yang dapat mereka lakukan untuk mengatasinya. Inilah pentingnya menggeser paradigma: dari mengetahui lingkungan, mencintai lingkungan, menjaga lingkungan, bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pendidikan Islam dapat menjadikan lingkungan sebagai laboratorium pembelajaran. Peserta didik dapat diajak mengamati kualitas air, mengelola sampah, menanam pohon, membuat kebun sekolah, menghemat energi, melakukan penelitian sederhana, serta mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam. Dengan demikian, pembelajaran agama tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir dalam tindakan nyata.

Ekoteologi sebagai Basis Pendidikan Islam

Salah satu formulasi penting yang dapat dikembangkan adalah ekoteologi Islam. Ekoteologi menempatkan hubungan manusia dengan alam dalam perspektif ketuhanan. Alam bukan sekadar benda yang memiliki nilai ekonomi, tetapi merupakan bagian dari ciptaan Allah SWT yang memiliki keteraturan dan fungsi. Al-Qur’an menyatakan:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” (QS. Al-A’raf: 56). Pesan ini sangat relevan dengan persoalan lingkungan kontemporer. Peserta didik perlu ditanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, mengurangi sampah, menghemat air dan energi, serta melindungi makhluk hidup dapat dipandang sebagai bagian dari aktualisasi nilai-nilai Islam.

Formulasi Mengatasi Degradasi Lingkungan

Untuk menghadapi ancaman degradasi lingkungan, pendidikan Islam dapat mengembangkan enam formulasi utama.

 

  1. Formulasi Teologis: Menanamkan Kesadaran Amanah

Peserta didik perlu memahami bahwa bumi merupakan amanah Allah SWT. Kesadaran ini penting agar hubungan manusia dengan alam tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan ekonomi, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan spiritual. Alam bukan hanya sumber daya, tetapi juga amanah.

  1. Formulasi Kurikuler: Integrasi Islam dan Ekologi

Materi lingkungan perlu diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran. Dalam Pendidikan Agama Islam dapat dikaji ayat-ayat ekologis. Dalam IPA dapat dipelajari ekosistem. Dalam IPS dibahas hubungan manusia, pembangunan, dan lingkungan. Dalam bahasa peserta didik dapat menulis esai tentang krisis ekologis. Dalam proyek sekolah mereka dapat melakukan penghijauan dan pengelolaan sampah. Dengan demikian, pendidikan lingkungan menjadi lintas disiplin.

  1. Formulasi Keteladanan: Guru sebagai Role Model

Pendidikan lingkungan akan sulit berhasil apabila hanya berupa ceramah. Guru dan tenaga kependidikan harus menjadi teladan. Jika sekolah mengajarkan kebersihan, maka lingkungan sekolah harus bersih. Jika mengajarkan hemat energi, penggunaan listrik harus dikendalikan. Jika mengajarkan kepedulian terhadap alam, sekolah harus memiliki program penghijauan. Keteladanan adalah kurikulum yang tidak tertulis tetapi sangat kuat pengaruhnya.

  1. Formulasi Budaya Sekolah: Green Islamic School

Sekolah dan madrasah dapat mengembangkan konsep Green Islamic School/Madrasah. Programnya dapat berupa:

  1. gerakan mengurangi sampah plastik;
  2. bank sampah;
  3. penghijauan;
  4. kebun sekolah;
  5. konservasi air;
  6. penghematan listrik;
  7. pengelolaan sampah organik;
  8. pembiasaan membawa tempat makan dan minum;
  9. Jumat bersih;
  10. kajian keislaman tentang ekologi;
  11. proyek penelitian lingkungan;
  12. serta gerakan satu peserta didik satu pohon.

Dengan demikian, nilai Islam diterjemahkan menjadi budaya ekologis.

  1. Formulasi Berbasis Teknologi dan Inovasi

Generasi muda hidup dalam ekosistem digital. Karena itu, pendidikan lingkungan harus memanfaatkan teknologi. Peserta didik dapat membuat aplikasi sederhana, video edukasi, kampanye media sosial, infografis, dokumentasi perubahan lingkungan, atau penelitian berbasis data. Teknologi tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi diarahkan menjadi instrumen solusi ekologis.

  1. Formulasi Kolaboratif: Sekolah, Keluarga, Masyarakat, dan Pemerintah

Degradasi lingkungan tidak mungkin diselesaikan oleh sekolah sendirian. Diperlukan kolaborasi antara sekolah–keluarga–masyarakat, dunia usaha–perguruan tinggi, pemerintah. Sekolah dapat menjadi pusat edukasi. Keluarga menjadi pusat pembiasaan. Masyarakat menjadi ruang aktualisasi. Pemerintah menyediakan kebijakan dan infrastruktur. Perguruan tinggi memberikan dukungan riset dan inovasi. Inilah pendidikan lingkungan yang bersifat ekosistemik.

Membangun Generasi yang Tidak Eksploitatif

Pendidikan Islam perlu melahirkan generasi yang memiliki paradigma baru terhadap alam. Bukan: “Apa yang bisa saya ambil dari alam?” Tetapi: “Apa yang dapat saya lakukan untuk menjaga keberlanjutan alam?” Perubahan pertanyaan tersebut sesungguhnya merupakan perubahan paradigma. Generasi mendatang harus memiliki kesadaran bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh dibangun dengan mengorbankan masa depan ekologis. Pembangunan harus menghadirkan keseimbangan antara ekonomi, sosial, lingkungan, dan moralitas.

Dari Khalifah Menuju Rahmatan lil ‘Alamin

Islam membawa misi rahmatan lil ‘alamin. Makna rahmat tidak hanya terbatas pada hubungan antarmanusia, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan alam dan seluruh makhluk hidup. Karena itu, pendidikan Islam harus memperluas orientasi pembentukan karakter. Peserta didik tidak hanya diarahkan menjadi manusia yang saleh secara individual, tetapi juga manusia yang saleh secara sosial dan ekologis. Kesalehan ekologis berarti menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari perilaku kehidupan sehari-hari. Seorang peserta didik yang memahami ajaran Islam tentang kebersihan, keseimbangan, amanah, larangan berlebih-lebihan, dan larangan membuat kerusakan seharusnya mampu menerjemahkan nilai tersebut dalam perilaku nyata.

 

Penutup: Menyelamatkan Lingkungan melalui Pendidikan

Degradasi lingkungan tidak akan selesai hanya dengan menambah tempat sampah, membuat regulasi, atau melakukan penghijauan. Semua itu penting, tetapi yang lebih mendasar adalah mengubah cara manusia memandang dan memperlakukan alam. Di sinilah pendidikan Islam memiliki peran strategis. Pendidikan harus membentuk manusia yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, kuat secara moral, dan bertanggung jawab secara ekologis. Sebab manusia yang benar-benar beriman bukan hanya manusia yang rajin beribadah secara ritual, tetapi juga manusia yang mampu menjaga amanah kehidupan. Maka, formulasi pendidikan Islam dalam menghadapi degradasi lingkungan harus bergerak dari teologi menuju aksi, dari pengetahuan menuju kesadaran, dari kesadaran menuju kebiasaan, dan dari kebiasaan menuju budaya ekologis. Pada akhirnya, menjaga bumi adalah bagian dari menjaga amanah Allah SWT. Merawat lingkungan adalah bagian dari merawat kehidupan. Dan mendidik generasi peduli lingkungan berarti sedang menyiapkan generasi yang mampu mewariskan bumi dalam keadaan lebih baik kepada generasi berikutnya. Pendidikan Islam tidak boleh hanya mencetak manusia yang memahami ayat-ayat tentang alam, tetapi harus mencetak manusia yang mampu menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai kekuatan untuk menjaga alam. Allahu a’lam.

 

Bagikan

Comments are closed.