Pendidikan Gratis Harus Naik Kelas , Dari Membiayai Mahasiswa Menuju Menghasilkan SDM Unggul Kaltim
Oleh: Dr. H. Achmad Ruslan Afendi, M.Ag. Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Pengurus Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur
Pendidikan Gratis: Sebuah Investasi, Bukan Sekadar Bantuan
Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling strategis dalam membangun kualitas manusia. Karena itu, kebijakan pemerintah untuk memperluas akses pendidikan melalui pendidikan gratis dan beasiswa patut diapresiasi. Kebijakan tersebut membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya kelompok yang secara ekonomi memiliki keterbatasan, untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Dalam konteks Kalimantan Timur, kebijakan pendidikan gratis melalui berbagai skema pembiayaan pendidikan merupakan langkah penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan. Program Gratispol, misalnya, diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Kalimantan Timur. UINSI Samarinda juga telah menyatakan dukungannya terhadap program tersebut.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang harus terus kita ajukan: Apakah pendidikan gratis secara otomatis menghasilkan pendidikan berkualitas? Jawabannya tentu tidak. Pendidikan gratis adalah instrumen untuk memperluas akses, sedangkan pendidikan berkualitas adalah proses untuk menghasilkan kompetensi, dan pendidikan yang berdampak adalah kemampuan lulusan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan. Karena itu, pendidikan gratis harus naik kelas: dari sekadar membiayai mahasiswa menjadi kebijakan yang benar-benar menghasilkan SDM unggul Kalimantan Timur.
Dari Akses Menuju Mutu
Dalam kebijakan pendidikan, akses merupakan persoalan fundamental. Anak-anak dari keluarga kurang mampu harus memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Tidak boleh ada generasi muda yang kehilangan kesempatan kuliah hanya karena persoalan ekonomi. Tetapi setelah akses terbuka, pertanyaan berikutnya adalah apa yang terjadi selama mereka menjalani pendidikan? Mahasiswa harus memperoleh pembelajaran yang bermutu. Mereka harus memiliki dosen yang kompeten, kurikulum yang relevan, fasilitas pembelajaran yang memadai, lingkungan akademik yang sehat, pengalaman praktis, kemampuan digital, kemampuan komunikasi, karakter, dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Jangan sampai kita berhenti pada logika: “Yang penting kuliah.” Padahal tantangan sesungguhnya adalah: “Bagaimana agar mereka berhasil dalam kuliah dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan setelah lulus?” Di sinilah kebijakan pendidikan gratis perlu bergeser dari access oriented menuju quality oriented.
Pendidikan Gratis Jangan Hanya Menghitung Jumlah Penerima
Keberhasilan program pendidikan tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan jumlah mahasiswa yang memperoleh beasiswa. Jumlah penerima memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator. Pemerintah dan perguruan tinggi perlu melihat indikator yang lebih substantif: berapa mahasiswa yang mampu menyelesaikan studi tepat waktu, bagaimana IPK dan capaian pembelajarannya, kompetensi apa yang dimiliki;
- berapa yang memiliki sertifikasi kompetensi;
- berapa yang memperoleh pekerjaan setelah lulus;
- berapa yang bekerja sesuai bidang keahliannya;
- berapa yang menjadi entrepreneur;
- berapa yang melanjutkan studi;
- serta berapa besar kontribusi mereka terhadap pembangunan daerah.
Dengan kata lain, output, outcome, dan impact harus menjadi bagian penting dalam evaluasi kebijakan pendidikan gratis. Jika seribu mahasiswa dibiayai tetapi sebagian besar lulus terlambat, tidak memiliki kompetensi yang relevan, dan kesulitan memasuki dunia kerja, maka kita harus berani melakukan evaluasi. Sebaliknya, jika investasi pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, produktif, berintegritas, dan berkontribusi terhadap pembangunan, maka pendidikan benar-benar telah menjadi investasi pembangunan manusia.
UINSI Harus Menjadi Bagian dari Transformasi Kebijakan
Dalam konteks ini, UINSI Samarinda memiliki posisi yang sangat strategis. Sebagai perguruan tinggi keagamaan negeri di Kalimantan Timur, UINSI tidak hanya memiliki tugas menyelenggarakan pendidikan tinggi, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah. Dukungan UINSI terhadap program pendidikan pemerintah harus diterjemahkan menjadi kebijakan akademik yang memastikan penerima beasiswa memperoleh kualitas pendidikan terbaik. Artinya, beasiswa tidak boleh berhenti ketika biaya pendidikan dibayarkan.
Beasiswa harus menjadi bagian dari talent development system. Mahasiswa penerima beasiswa harus memperoleh: akses pendidikan – pembinaan akademik – pengembangan kompetensi – pengalaman kerja – sertifikasi – pengembangan karier – kontribusi kepada masyarakat. Inilah yang dapat disebut sebagai rantai nilai pendidikan.
Beasiswa Harus Berbasis Kebutuhan dan Prestasi
Salah satu agenda penting yang perlu diperkuat adalah desain beasiswa. Kebijakan beasiswa harus memiliki dua dimensi sekaligus: Pertama, keberpihakan sosial, Mahasiswa dari keluarga kurang mampu harus memperoleh kesempatan pendidikan yang layak. Pendidikan tidak boleh menjadi hak eksklusif mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Kedua, pengembangan talenta, Mahasiswa yang memiliki prestasi akademik, kepemimpinan, kreativitas, kemampuan teknologi, olahraga, seni, kewirausahaan, maupun potensi lainnya perlu mendapatkan ruang pengembangan. Dengan demikian, kebijakan beasiswa bukan hanya charity, tetapi menjadi human capital investment. Pemerintah dan perguruan tinggi perlu berani mengidentifikasi mahasiswa yang memiliki potensi besar dan memberikan ekosistem pengembangan yang sesuai. Menghubungkan Beasiswa dengan Kompetensi, Penerima beasiswa seharusnya tidak hanya memperoleh bantuan finansial. Mereka harus memiliki learning outcome yang jelas. Misalnya, selama menempuh pendidikan mahasiswa penerima beasiswa diarahkan memiliki: kemampuan bahasa asing, literasi digital, literasi AI, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kewirausahaan, kemampuan riset, sertifikasi kompetensi, pengalaman magang, kemampuan bekerja dalam tim, karakter dan integritas. Kebijakan seperti ini akan membuat beasiswa memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Mahasiswa tidak hanya lulus dengan ijazah, tetapi memiliki portofolio kompetensi.
Tracer Study Jangan Sekadar Formalitas
Salah satu instrumen penting untuk mengetahui keberhasilan pendidikan adalah tracer study. Namun, tracer study jangan hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akreditasi. Tracer study harus menjadi alat pengambilan keputusan kebijakan. Perguruan tinggi perlu mengetahui: Di mana lulusan bekerja? Berapa lama mereka mendapatkan pekerjaan? Apakah pekerjaan sesuai bidang keahlian? Berapa tingkat pendapatan atau kualitas pekerjaan mereka? Apakah mereka menjadi entrepreneur? Apa kompetensi yang paling dibutuhkan pengguna lulusan? Kompetensi apa yang ternyata kurang dimiliki lulusan?
Data tersebut harus dikembalikan kepada program studi sebagai bahan untuk memperbaiki kurikulum. Dengan demikian, terjadi siklus: pendidikan – lulusan – tracer study – evaluasi – perbaikan kurikulum – peningkatan mutu. Inilah yang disebut continuous quality improvement.
Mengukur Return on Education Investment
Sudah waktunya kebijakan pendidikan mulai berbicara tentang return on education investment atau tingkat manfaat investasi pendidikan. Jika pemerintah mengalokasikan anggaran yang besar untuk membiayai pendidikan mahasiswa, maka harus ada mekanisme untuk melihat dampak investasi tersebut. Bukan berarti pendidikan harus dinilai semata-mata berdasarkan keuntungan ekonomi. Pendidikan memiliki manfaat sosial, budaya, moral, dan kebangsaan yang jauh lebih luas. Namun demikian, pemerintah tetap perlu mengetahui apakah investasi tersebut menghasilkan: peningkatan kompetensi, peningkatan produktivitas, peningkatan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, penurunan kesenjangan, peningkatan kualitas hidup, peningkatan kewirausahaan, serta kontribusi terhadap pembangunan daerah. Dengan demikian, evaluasi pendidikan tidak berhenti pada berapa rupiah yang dikeluarkan, tetapi sampai pada pertanyaan: “Berapa besar perubahan positif yang dihasilkan dari investasi tersebut?”
Kaltim Tidak Hanya Membutuhkan Sarjana, tetapi SDM yang Relevan
Kalimantan Timur sedang mengalami transformasi besar. Kehadiran Ibu Kota Nusantara, perkembangan ekonomi digital, hilirisasi, transformasi energi, pembangunan infrastruktur, industri kreatif, pariwisata, jasa, dan berbagai sektor baru akan mengubah kebutuhan tenaga kerja. Karena itu, Kaltim tidak cukup hanya menghasilkan lebih banyak sarjana. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak sarjana yang relevan. Relevan dengan apa? Relevan dengan: kebutuhan masyarakat, pembangunan daerah, IKN, dunia kerja, teknologi, dan masa depan. Di sinilah UINSI dan perguruan tinggi lainnya harus melakukan curriculum redesign. Program pendidikan perlu memperkuat: AI dan teknologi digital, bahasa asing, kewirausahaan, komunikasi, kepemimpinan, kemampuan analitis, riset, ekonomi syariah, pendidikan karakter, moderasi beragama, dan kompetensi profesional.
Dari Degree Oriented Menuju Competency Oriented
Paradigma lama sering menempatkan ijazah sebagai tujuan akhir pendidikan. Ke depan, ijazah harus menjadi bukti bahwa seseorang telah melalui proses pendidikan, bukan satu-satunya bukti bahwa seseorang memiliki kompetensi. Dunia kerja semakin membutuhkan kemampuan yang dapat dibuktikan. Karena itu, mahasiswa perlu memperoleh kombinasi: degree + competency + certification + experience + character. Lulusan UINSI misalnya tidak cukup hanya mengatakan: “Saya lulusan perguruan tinggi.” Tetapi harus mampu mengatakan: “Saya memiliki kompetensi, pengalaman, sertifikasi, karakter, dan kemampuan memecahkan persoalan nyata.” Inilah lulusan yang dibutuhkan Kaltim dan IKN.
Pendidikan Gratis Harus Menghasilkan Dampak Sosial
Tujuan akhir pendidikan bukan sekadar memperoleh pekerjaan. Pendidikan harus membuat seseorang mampu memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, lulusan penerima beasiswa perlu didorong memiliki kepedulian sosial. Mereka harus menjadi: guru yang inspiratif, birokrat yang berintegritas, profesional yang kompeten, entrepreneur yang membuka lapangan kerja, peneliti yang menghasilkan inovasi, pemimpin yang amanah, aktivis sosial yang produktif, dan warga negara yang bertanggung jawab. Dengan demikian, investasi pendidikan menghasilkan social return, bukan hanya economic return.
Membangun Kemitraan UINSI dan Pemprov Kaltim
Agar kebijakan tersebut berjalan, diperlukan kolaborasi yang kuat antara UINSI dan Pemprov Kaltim. Kemitraan tersebut dapat diarahkan pada beberapa agenda.
- Pemetaan kebutuhan SDM, Pemprov bersama perguruan tinggi memetakan kebutuhan kompetensi Kaltim dan IKN.
- Beasiswa berbasis kebutuhan pembangunan, Sebagian skema beasiswa dapat diarahkan pada bidang kompetensi yang strategis bagi masa depan Kaltim.
- Magang dan pengalaman kerja, Penerima beasiswa memperoleh pengalaman kerja melalui program magang di pemerintahan, dunia usaha, industri, sekolah, lembaga sosial, maupun sektor strategis lainnya.
- Sertifikasi kompetensi, Mahasiswa didorong memperoleh sertifikasi sesuai bidang keahlian.
- Tracer study terintegrasi, Data alumni menjadi dasar evaluasi kebijakan pendidikan.
- Pengembangan kewirausahaan, Penerima beasiswa diberikan pendampingan agar sebagian mampu menjadi pencipta lapangan kerja.
- Evaluasi dampak, Pemerintah dan perguruan tinggi melakukan evaluasi secara berkala terhadap dampak investasi pendidikan.
Membangun Dashboard Pendidikan Kaltim
Ke depan, menarik jika Pemprov Kaltim bersama perguruan tinggi membangun Education Impact Dashboard. Dashboard tersebut dapat memuat indikator seperti: jumlah penerima beasiswa – progres studi – kelulusan – kompetensi – sertifikasi – pekerjaan – kesesuaian pekerjaan – kewirausahaan – kontribusi sosial. Dengan data tersebut, pemerintah dapat mengambil keputusan berdasarkan bukti. Kita tidak lagi sekadar mengatakan: “Program pendidikan berhasil karena banyak mahasiswa menerima beasiswa.” Tetapi dapat mengatakan: “Program pendidikan berhasil karena sekian persen penerima menyelesaikan studi tepat waktu, memperoleh kompetensi tertentu, terserap dalam pekerjaan strategis, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi terhadap pembangunan Kaltim.” Inilah pendidikan yang measurable, accountable, dan impactful.
Jangan Takut Mengevaluasi Pendidikan Gratis
Pendidikan gratis merupakan kebijakan yang sangat baik. Namun kebijakan yang baik bukan berarti kebijakan yang tidak boleh dievaluasi. Justru karena anggaran yang digunakan adalah sumber daya publik, maka kebijakan tersebut harus semakin transparan dan akuntabel. Evaluasi bukan berarti menolak pendidikan gratis. Sebaliknya, evaluasi merupakan cara untuk memastikan bahwa pendidikan gratis benar-benar memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat. Kita harus berani melakukan pergeseran: dari jumlah penerima menuju kualitas penerima; dari biaya pendidikan menuju investasi pendidikan; dari angka kelulusan menuju kompetensi lulusan; dari ijazah menuju employability; dari output menuju outcome; dan dari outcome menuju impact.
Penutup: Saatnya Pendidikan Gratis Naik Kelas
Pendidikan gratis merupakan langkah awal yang penting dalam membangun keadilan sosial. Tetapi pendidikan gratis tidak boleh menjadi tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah manusia yang berkualitas, kompeten, berkarakter, produktif, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi bagi pembangunan. Karena itu, kebijakan pendidikan di Kalimantan Timur harus berani memasuki tahap berikutnya: Dari pendidikan gratis menuju pendidikan berkualitas. Dari pendidikan berkualitas menuju pendidikan yang relevan. Dan dari pendidikan yang relevan menuju pendidikan yang berdampak. UINSI Samarinda memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari transformasi tersebut. Pemprov Kaltim juga memiliki peluang untuk menjadikan investasi pendidikan sebagai fondasi pembangunan manusia menuju era IKN. Keduanya perlu berjalan dalam satu visi: membiayai pendidikan bukan sekadar untuk membuat anak muda kuliah, tetapi untuk membuat mereka mampu menghadapi masa depan. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak mahasiswa yang dibiayai, tetapi berapa banyak manusia unggul yang lahir dari investasi tersebut. Dan pada akhirnya, keberhasilan Gratispol bukan hanya ketika semakin banyak masyarakat dapat mengatakan: “Saya bisa kuliah karena dibiayai pemerintah.” Tetapi ketika mereka kelak mampu mengatakan: “Saya menjadi manusia yang kompeten, mandiri, dan bermanfaat bagi Kaltim karena pendidikan yang saya terima.” Inilah saatnya pendidikan gratis naik kelas: dari membiayai mahasiswa menuju menghasilkan SDM unggul Kalimantan Timur. Allahu a’lam.
Comments are closed.