Kuliah Perdana Prodi Pendidikan Profesi Apoteker STIKSAM: Menyiapkan Lulusan Inovatif dan Berdaya Saing

SAMARINDA (Amanah Ummat). Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda (STIKSAM) resmi menggelar kegiatan Kuliah Perdana Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) pada Selasa, 1 September 2026. Acara ini mengusung tema utama penguatan kompetensi untuk mendorong transformasi lulusan apoteker yang inovatif, berdaya saing tinggi, serta siap menghadapi dinamika pelayanan kesehatan modern.
Kegiatan ilmiah dan akademik ini dibuka secara resmi oleh Ketua STIKSAM, Assoc. Prof. apt. Supomo, M.Si.. Dalam pembukaannya, pimpinan perguruan tinggi menekankan pentingnya kesiapan para mahasiswa profesi untuk beradaptasi dengan standar kompetensi kefarmasian terbaru yang menuntut integrasi ilmu pengetahuan, etika profesi, dan pemanfaatan teknologi.

Sesi materi kuliah perdana ini juga menghadirkan narasumber ahli yang membekali mahasiswa dengan berbagai perspektif strategis. Dr. apt. Arsyik Ibrahim, M.Si. ketua PD IAI Kaltim, menyampaikan materi terkait Penguatan Kompetensi untuk Transformasi Apoteker yang Inovatif dan Siap Bersaing.
Selanjutnya, Agung Kurniawan, ST., M.M. Kepala Balai Besar POM di Samarinda memberikan wawasan mengenai Peran Ekosistem dalam Pengawasan Obat dan Makanan.

Sementara itu, apt. Sandra Annisa, M.Farm.Klin. Kepala UPTD Puskesmas Makroman Samarinda memaparkan topik mengenai peran apoteker klinis dalam layanan kesehatan primer, dengan menekankan pentingnya kolaborasi interprofesional, pemantauan terapi obat, dan pengawasan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan.

Acara pembukaan turut dihadiri oleh jajaran pimpinan institusi dan civitas akademika STIKSAM. Di antara jajaran pimpinan yang hadir yaitu Ketua Senat Risa Supriningrum, S.Si., M.M., Ketua Program Studi Apoteker Dr. apt. Triswanto Sentat, M.Farm.Klin., Ketua Badan Penjaminan Mutu (BPM) Dr. apt. Eka Siswanto Syamsul, M.Sc., serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) apt. Rusdianti Helmidanora, M.Sc.

Sebagai bagian dari perancangan arah pendidikan profesi, kuliah perdana ini menyoroti pentingnya implementasi Standar Profesi Apoteker Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/13/2023. Kerangka regulasi ini menegaskan bahwa setiap tenaga medis dan tenaga kesehatan wajib mematuhi standar profesi, standar pelayanan, serta standar prosedur operasional dalam menjalankan tugasnya.

Dalam sesi pemaparan materi, mahasiswa dibekali pemahaman mengenai pergeseran paradigma peran apoteker dari yang semula berfokus pada produk (drug-oriented) menjadi berorientasi pada pelayanan pasien (patient-oriented). Transformasi ini menuntut apoteker untuk tidak sekadar mengelola dan menyerahkan obat, melainkan aktif menyelesaikan masalah terapi serta mengoptimalkan kualitas hidup pasien.

Kuliah perdana ini juga menggarisbawahi pentingnya peran apoteker dalam penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas, pustu, hingga posyandu. Apoteker diharapkan mampu menjalankan pelayanan kefarmasian yang terintegrasi di setiap tahapan siklus hidup masyarakat, mulai dari usia anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia.

Selain penguatan layanan klinis di lapangan, materi yang disampaikan mencakup empat pilar utama transformasi apoteker inovatif. Pilar tersebut meliputi integrasi digital health dan informatika farmasi, keunggulan asuhan klinis berbasis bukti (evidence-based medicine), pemahaman farmakoekonomi dalam kebijakan kesehatan, serta pengembangan jiwa pharmapreneurship dan kepemimpinan yang adaptif.

Diharapkan melalui pembekalan ini, para mahasiswa Prodi Pendidikan Profesi Apoteker sebagai calon apoteker mampu menguasai aspek-aspek intelektualitas kefarmasian, ilmu biomedik, sosio-farmasi, hingga pengelolaan rantai pasok obat secara menyeluruh. Keterampilan tersebut menjadi landasan penting untuk mencegah risiko medication error dan menjamin keselamatan pasien di berbagai sarana pelayanan kefarmasian.

sarana pendukung dalam pengawasan obat dan makanan, sinergi antara akademisi dan lembaga regulator juga menjadi perhatian dalam kegiatan ini. Hal tersebut sejalan dengan upaya Balai Besar POM di Samarinda dan BPOM RI yang terus memperkuat peran ekosistem kefarmasian, baik melalui pengawasan pre-market maupun post-market, guna memastikan mutu dan keamanan obat yang beredar di masyarakat.

Melalui pelaksanaan kuliah perdana ini, PSPPA STIKSAM berkomitmen untuk memfasilitasi proses pembelajaran yang mengacu pada kurikulum terbaru dan kebutuhan industri maupun fasilitas kesehatan. Hal ini mencakup kesiapan mahasiswa menghadapi evaluasi kompetensi hingga uji berkala sesuai kriteria standar nasional.

Secara keseluruhan, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh antusiasme dari para peserta mahasiswa baru profesi apoteker. Momentum ini menjadi awal dari perjalanan akademik mereka untuk ditempa menjadi tenaga kefarmasian yang profesional, berintegritas, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Kegiatan resmi ini kemudian ditutup dengan sesi diskusi interaktif serta penataan komitmen bersama seluruh civitas akademika STIKSAM untuk terus mengawal kualitas pendidikan kefarmasian di Kalimantan Timur demi mendukung terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Eka Siswanto Syamsul).

Bagikan

Comments are closed.