SAMARINDA (Amanah Ummat.Com) Untuk mewujudkan generasi bebas Stunting Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Samarinda melalui Komisi Perempuan, Remaja dan keluarga (PRK) menggelar talkshow Peranan Perempuan Wujudkan Generasi Bebas Stunting di kota Samarinda, digelar di kantor MUI Samarinda Jalan Juanda no 19 Samarinda, 29/7/2025.
Dalam kegiatan tersebut PRK menghadirkan 2 narasumber, yaitu pertama, DR Hajah Siti Saghirah,M,Ag dengan tema: peranan perempuan dalam mewujudkan generasi yang bebas stunting, Kedua. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, dr. Ismid Kosasih dengan Tema mewujudkan generasi yang bebas stunting dalam perspektif kesehatan.
Acara dibuka oleh PLt Asisten I Sekretariat Daerah Kota Samarinda Suwarso. Dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang digelar MUI melalui Komisi PRK. ,Ia menegaskan (MUI) memiliki peran strategis bagi bangsa, utamanya dalam membentengi umat islam .
“Peran MUI Samarinda Penanggulangan Covid- 19 sangat nyata Salah satunya, keterlibatan dalam melakukan aksi-aksi di lapangan adalah penerbitan fatwa-fatwa keagamaan sejak awal pandemi yang dijadikan rujukan utama bagi pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Lanjut Suwarso, kegiatan yang digelar PRK ini sangat tepat karena berkontribusi signifikan dalam mencegah stunting, di tengah pemerintah kota Samarinda terus terus mengintensifkan upaya penurunan angka stunting dan diperlukan upaya bersama untuk menurunkan angka tersebut.
Ketua MUI Kota Samarinda KH Muhammad Mundzir mengatakan, masalah stunting lagi ngetren, padahal masalah itu tidak ujug ujug . Dulu di BKKBN ada Salah satu program yang sangat erat kaitanya dengan Stunting , yaitu program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). program ini memberikan pengertian dan kesadaran kepada perempuan yang mau nikah agar mempertimbangkan kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran. PUP tentunya bisa menghasilkan kelahiran anak yang lebih berkualitas.

Mantan Ketua NU Samarinda ini menjelaskan masalah stunting erat kaitanya dengan sebuah hadis yang menjelaskan . Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah wanita yang taat beragama, maka engkau akan berbahagia. (H.R. Bukhari dan Muslim)
“Memilih pasangan yang agamanya baik, kesehatan reproduksi yang baik dapat berkontribusi pada terciptanya keluarga yang sehat dan berkualitas, yang pada gilirannya dapat membantu mencegah stunting,” ujar KH Muhammad Mundzir .
Sementara itu, DR Hajah Siti Saghirah,MA.g dengan tema makalahnya : (peranan perempuan dalam mewujudkan generasi yang bebas stunting) menjelaskan dari perspektif islam. Dalam Surah Al-Maidah ayat 88 menjelaskan tentang perintah untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (thayyib) sebagai rezeki dari Allah SWT
Lanjut Siti Saghirah, Dalam konteks stunting, ayat ini dapat diinterpretasikan sebagai seruan untuk memastikan asupan gizi yang cukup dan berkualitas bagi anak-anak, karena makanan yang halal dan baik akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
Stunting terjadi karena kekurangan gizi kronis, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan. Ayat ini menekankan pentingnya mengonsumsi makanan yang halal dan baik, yang berarti harus mengandung nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan anak.
“Kesimpulan dalam upaya pencegahan stunting, yaitu dengan memastikan ketersediaan makanan yang halal dan baik untuk dikonsumsi, terutama oleh anak-anak. Ini mencakup aspek gizi, kebersihan, dan manfaat kesehatan, yang semuanya mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal anak,”ujarnya

dr. Ismid Kosasih dengan Tema mewujudkan generasi yang bebas stunting dalam perspektif kesehatan, mengingatkan pentingnya peran spesifik wanita dalam pencegahan stunting,
Pertama. wanita saat melahirkan harus benar benar ditangani rumah sakit dan ditangani dokter, pentingnya pemantauan kesehatan ibu dan bayi dan menyusui dini segera setelah lahir.
“Untuk mencegah stunting pada wanita yang baru melahirkan, fokus utama adalah pada pemenuhan gizi ibu dan bayi, serta memberikan stimulasi yang tepat untuk tumbuh kembang anak. Ini termasuk memberikan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI yang bergizi, dan pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin,” ujarnya.
Lanjut Kosasih selain menangani perempuan secara maksimal, Peran wanita, khususnya ibu, dalam pemberian ASI eksklusif sangatlah krusial. Wanita memiliki peran sentral dalam memastikan bayi mendapatkan haknya untuk mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Peran ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengetahuan tentang manfaat ASI, persiapan fisik dan mental, hingga dukungan dari lingkungan sekitar. (Ghib)
Comments are closed.