Selamat HUT Balikpapan

Catatan Rizal Effendi

553

BESOK, Sabtu (10/2)  Kota Balikpapan merayakan hari jadinya ke-127. Upacaranya tidak lagi di Lapangan Merdeka milik Pertamina. Tapi di halaman BSCC Dome, yang sekarang ini sudah diubah multifungsi. Tidak saja halaman parkir, tapi bisa jadi tempat upacara dan kegiatan lainnya. Di situ sudah dipasang tiang bendera seperti di halaman Istana Merdeka.

Hanya saja karena halaman parkirnya dijadikan tempat upacara, maka parkir kendaraan mau tak mau melebar ke mana-mana. Panitia menyiapkan 25 tempat parkir alternatif, di antaranya di halaman parkir sekretariat KNPI, di kantor-kantor dinas sepanjang Jl Ruhui Rahayu, Taman Tiga Generasi sampai Gedung Kesenian. Lumayan jalan kakinya menuju Dome.

Persiapan upacara sudah dilakukan. Sekeliling parkir Dome dipasangi tenda merah putih. Ada panggung utama yang akan diduduki Wali Kota bersama Forkopimda dan istri. Acara akan dimulakan pukul 07.30 pagi. Acara juga diwarnai dengan tari kolosal.

Penetapan hari jadi kota ini berdasarkan pada peristiwa pengeboran pertama sumur minyak Mathilda oleh perusahaan minyak asal Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Tepatnya 10 Februari 1897. Kita semua belum lahir.

Ketua panitia HUT tahun ini adalah Sudirman Djayaleksana, yang juga Kadis Lingkungan Hidup (DLH). Dia sudah menyebarkan undangan berwarna kuning dengan foto utama Wali Kota Rahmad Mas’ud bersama pendampingnya Hj Nurlena. Selama belum ada wakil wali kota, maka pajangan foto wali kota selalu bersama sang istri. Jarang dengan Ketua DPRD Abdulloh. Padahal dalam UU, Pemda itu terdiri atas kepala daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dibantu oleh Perangkat Daerah.

Tema HUT ke-127 adalah “Balikpapan Kondusif, Sinergi, dan Berkelanjutan.” Sepertinya agak berubah sedikit. Wali Kota  dalam ekspose akhir tahun menyebut temanya: “Balikpapan Kondusif Menuju Pembangunan Inklusif dan Progresif.”

Dia waktu itu menjelaskan, kondusif bermakna kota Balikpapan yang memiliki suasana tenang dan mendukung terlaksananya semua aktivitas masyarakat. Inklusif bermakna keterlibatan seluruh kelompok masyarakat dalam proses pembangunan. Sedang progresif bermakna melakukan suatu perubahan yang lebih baik menuju pada kemajuan.

Sebelum puncak peringatan, DPRD Balikpapan lebih dulu menggelar Rapat Paripurna Memperingati Hari Jadi, Kamis (8/2) kemarin. Tempatnya cukup istimewa di Ballroom Hotel Tjokro. Tidak di Novotel, hotel milik Pemkot yang dikerjasamakan dengan swasta. Ada pidato wali kota dan pemberian penghargaan kepada warga berprestasi atau berjasa. Juga kepada beberapa perusahaan.

Pemberian penghargaan di Rapat Paripurna DPRD Balikpapan.

Selain itu ada MoU pengambilan air baku Sungai Mahakam antara Balikpapan, PPU, Kukar dan Samarinda. Peresmian KTP Elektronik di semua kantor kecamatan, peresmian revitalisasi Pasar Klandasan, Puskesmas Karang Rejo dan Kantor Lurah Damai.

Balikpapan masih terus menjadi juara pembangunan. Dalam HUT ke-67 Provinsi Kaltim, 9 Januari 2024, kota ini meraih panji keberhasilan pembangunan terbanyak yaitu 17 panji. Pada tahun 2022, Balikpapan juga masih mempertahankan Piala Adipura Kencana sebagai Kota Bersih. Tapi Balikpapan disalip Samarinda dalam hal kota layak huni. Hasil laporan Ikatan Ahli Perencana (IAP) tentang Most Livable City Index 2022, Balikpapan terlempar dari  kelompok 10 besar. Justru Samarinda dan Banjarmasin yang masuk.

Saya lihat di sampul utama undangan HUT, dipajang foto hitam putih mulai Balai Kota, Gedung Kesenian, Kilang Pertamina sampai Stadion Persiba. Sayang di stadion yang megah itu, tidak semegah prestasi yang dicapai Persiba. Tim Beruang Madu sekarang jatuh ke kasta paling rendah, Liga 3. Merana dan kurang perhatian. Sedang stadion itu untuk sementara menjadi “stadion kebanggaan” PSM Makassar dan Borneo FC Samarinda sebagai home base-nya.

Saya nonton ketika PSM melumat Persita Tangerang 4-0 dan Borneo menang 3-1 atas Persija Jakarta di Stadion Batakan. “Nah ini baru main bola,” kata Vibra membandingkan dengan penampilan Persiba yang selama ini selalu buruk dan kalah melulu. “Saya siap ikut menyelamatkan Persiba,” kata Faisal Tola, pengusaha yang juga pernah terlibat menangani manajemen Persiba.

Lama saya tidak menyaksikan Stadion Batakan penuh sesak. Itu baru terlihat ketika Borneo tampil lawan Persija. Sekitar 12 ribu orang yang menonton. Sejumlah mobil dan sepeda motor “terjebak dan terdampar” di jalur masuk ke stadion. Termasuk mobil saya. Mau tidak mau jalan kaki ke stadion.

Wajah Balikpapan banyak berubah dengan penataan taman di berbagai sudut kota dan pemasangan lampu jalanan dan jembatan. Lihat saja Jembatan Manggar dan jembatan pendek di depan Hotel Zurich. Dibuat gemerlap di waktu malam. Tapi taman di Jl Bhayangkara antara Kantor Pemkot dan Masjid At Taqwa sepertinya belum selesai.

Di tengah penataan itu, sayangnya persoalan kemacetan jalan semakin parah. Tidak saja di Jl MT Haryono yang sudah menjadi momok, tapi juga di berbagai jalan lainnya. Termasuk Simpang Rapak, kawasan Jl Mulawarman, Balikpapan Timur dan daerah sekitar depan Hotel Platinum, Balikpapan Utara.

Setidaknya ada dua kecelakaan lalu lintas tragis yang terjadi di Jl MT Haryono beberapa waktu lalu, yang merenggut dua jiwa. Kedua orang itu adalah mahasiswi ITK bernama Monivincha Simon (18) dan La Bonto (50). Keduanya terjatuh ketika mengendarai sepeda motor dan kemudian tewas terlindas mobil yang berada di belakangnya.

Masifnya pembangunan IKN  ikut menambah keriuhan dan kemacetan Kota Minyak. Tata kelola penjualan BBM di SPBU juga ikut berkontribusi.  Lihat saja situasi SPBU di kawasan Damai, Gunung Malang dan Jl Soekarno-Hatta. Tiap hari antre dan banyak memakan badan jalan.

Dengan segala kemajuannya, ada juga warga tak puas atas kebijakan pemimpin kota. Aroma KKN-nya kerap digunjingkan. Lihat saja di medsos. Kegelisahan  para pejabat dan staf juga sangat terasa.  Ada organisasi yang ditelantarkan. Misalnya KONI tak diberi anggaran. Sepertinya menyusul Palang Merah Indonesia (PMI). Ketua terpilihnya Ambo Aja sejauh ini belum mendapat rekomendasi. Meski ada pemberian penghargaan kepada pendonor.

BELUM JUGA SELESAI

Dua hari sebelum peringatan HUT ke-127 Kota Balikpapan,  saya dua kali melewati Jl MT Haryono. Kebetulan saya mau ke Klandasan. Saya berharap jalan itu sudah mulus sebagai kado HUT Kota. Tapi sampai Kamis (8/2), pekerjaan jalan itu khususnya dekat jembatan PDAM belum juga rampung. Mobil harus antre dan hati-hati. Sebab, ada yang terperosok.

Niat baik Wali Kota Rahmad Mas’ud mengatasi banjir di kawasan Sungai Ampal dengan menata jalan dan drainase sebagian Jl MT Haryono sayangnya tidak mulus dalam pengerjaannya. Padahal proyek bernilai Rp136 miliar ini sangat dibanggakan karena dianggap tidak  bisa diwujudkan oleh para pemimpin sebelumnya.

Mungkin karena belum rampung, waktu hujan lebat terjadi Minggu (4/2) malam, persis pada saat debat terakhir Capres, kawasan beler Jl Zainal Arifin tetap terendam. Jl MT Haryono di kawasan simpang tiga BDS sampai jembatan PDAM juga tetap tergenang air. Seorang sopir yang kantornya di kawasan itu terpaksa membawa mobil kantor ke rumah karena tak memungkinkan kembali ke kantor. Kondisi yang sama terjadi lagi Selasa (6/2) malam.

Banyak warga menyorot kontraktor pelaksana PT Fahreza Duta Perkasa tidak seperkasa namanya dalam mengerjakan proyek ini. Tapi Wali Kota tetap “perkasa” merestui pemberian dispensasi perpanjangan waktu. Kabarnya ada adendum yang dikeluarkan untuk menambah waktu 50 hari. Kalau dihitung mulai 1 Januari lalu, maka tinggal beberapa hari lagi sudah berakhir. Tapi bisa jadi diperpanjang lagi untuk 50 hari kedua dengan tambahan denda.

Di Jl MT Haryono itu memang ada dua kegiatan, yang beda kontraktor pelaksananya. PT Fahreza berkaitan dengan proyek  DAS Ampal yang di antaranya ditandai dengan pembenahan drainase. Ada lagi kegiatan lain di tiga titik yaitu peninggian dan pelebaran jalan dengan biaya APBD Rp27 miliar.

Warga juga melihat proyek penataan drainase di kawasan RSS Jl Ruhui Rahayu tidak selesai sampai akhir tahun 2023 lalu. Sekarang masih dilanjutkan lagi. Ada yang bilang kontraktornya juga tak lancar. Termasuk proyek sekolah terpadu di Balikpapan Regency, yang juga diperpanjang sampai pekan ketiga Februari ini.

Sepertinya kita harus lupakan dulu masalah jalan sejenak. HUT kota tetap harus dirayakan. Meski masih ada warga   yang menggerundel. Dirgahayu Kota Balikpapan. Sambil kita menunggu Pilpres dan Pileg 14 Februari dan menyusul Pilkada serentak November atau September nanti. “Jalan-jalan ke Pasar Baru, jangan lupa beli sepatu. Selamat ulang tahun Balikpapan ke-127, angka tujuhnya milik saya dalam Pemilu.”(*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.