Memilih Presiden Tanpa Kehilangan Teman (Lidah Tumbuh Tulang)

Oleh :Syafril Teha Noer

863

SALAH satu beban terberatnya sekarang adalah bagaimana memilih presiden tanpa kehilangan teman di tiga kubu lain. Dia dan sejumlah sejawat menjagokan Anies. Sebagian kawannya memilih Prabowo. Sebagian lainnya memilih Ganjar. Sisanya, di kubu keempat, memilih untuk tidak memilih alias abstain, golput, kemasbod – kelompok masak bodoh.

Samasekali tak masalah, jika perbedaan itu terekspresikan secara wajar. Seperti selama ini, saat mereka masuk warung untuk makan bersama. Satu memilih Soto Banjar, satu memilih Nasi Kuning, satu memilih Cotto Makassar, satu lagi memilih Rawon. Bertukar kabar dan kelakar, saling gojlok, terpingkal bareng sambil menikmati kelezatan pilihan masing-masing.

Tapi ini sungguh mengancam kebersamaan dan kemesraan di antara mereka. Pemilih Prabowo menggunjing Anies. Pemuja Anies memperolok Ganjar. Dan penyanjung Ganjar mencemooh Prabowo. Gunjingan, olokan, cemoohan yang lebih dekat ke caci-maki. Alih-alih membuka wawasan dan cakrawala kesadaran, adanya cuma mempermalukan, mendegradasi. Dan Si Kemasbod dapat alasan jitu untuk melecehkan ketiganya.

Celakanya, dalam perkara yang sangat terkait dengan kelangsungan hidup berbangsa ini, masing-masing belum sekalipun mengkaji, sebenarnya Anies bikin apa gerang, Prabowo nawarkan apa toh, dan Ganjar ngerjakan apa sih – jika nanti terpilih jadi presiden. Apa saja yang akan mereka lakukan jika nanti menghuni Istana Negara, di segenap aspek hidup 274-an juta rakyat, dari Merauke ke Sabang, dari Miangas di ujung Sulawesi Utara ke Rote di pojok Nusa Tenggara Timur.

Tiap mereka hanya beranjak dari remeh-temeh semisal ulah angin dalam polusi udara, goyang gemoy dan penarik darah, dan lari-lari pagi yang sepi massa. Mengumpulkan hal-ihwal tak substantif. Menggorengnya sampai gosong. Angkat. Goreng lagi. Gosong lagi. Itu ke ituuu saja.

Mike jatuh, menjulurkan lidah, atau mengembalikan pertanyaan tentang SGIE, mungkin memang ‘sesuatu’. Tetapi apakah jauh lebih penting dari jaminan kebebasan berpendapat, penegakan hukum yang konsisten, tentara dan polisi yang teguh sebagai alat negara (bukan kekuasaan), pembebasan demokrasi dari KKN, pemerataan kesejahteraan sampai pelosok kampung, pencegahan sumber-sumber rejeki nasional numpuk di segelintir orang, serta penghormatan tinggi atas keutamaan adab dan kebudayaan? Mengapa segenap perdebatan dan silang pendapat tidak beranjak dari sini saja?

Tiga berdebat. Dan orang-orang meributkan kancing baju yang satu, cara berjalan yang satu lagi, dan potongan rambut satu lainnya. Berkutat di situuu saja. Yang di sini menyerang, yang di sana membela. Menyerang dan membela urusan kancing baju, cara berjalan, dan potongan rambut. Seakan makan-minum, pendidikan anak-anak mereka sangat ditentukan oleh kancing baju, cara berjalan, dan potongan rambut para kandidat.

“Itu melecehkan shalat!” pekik seseorang tentang seseorang yang keseleo omong – saking inginnya membela sang jagoan. Padahal, belum tentu juga dia shalat. “Tapi singkatan ‘amin’ itu juga melecehkan agama!” balas seseorang. Pun tidak jelas, di bagian mananya pelecehan itu terselenggara. “Kalau berkuasa dia akan memanjakan kelompok intoleran!” Sementara junjungannya sendiri, dulu, memperoleh dukungan dari kelompok yang kini disebutnya intoleran itu – dan kalah, dan sang pujaan lalu jadi menteri di kabinet pimpinan mantan lawannya, dan tokoh dari kelompok yang disebutnya intoleran itu masuk bui, dan dia diam saja, joget-joget pula.

Dunia terbolak-balik. Keluhuran tatanilai Nusantara tercabik-cabik. Politik benar-benar telah jadi kesibukan gerombolan yang hanya konsisten untuk inkonsisten. Lihatlah elemen-elemen di tiap kubu itu. Tak sedikit dari mereka pernah saling menjatuhkan, menghina, mengecilkan. Dan kini saling puji-puja, lantas jadi pembela tergigih dari serangan bertubi mantan kawan yang jadi lawan. Padahal serangan serupa dulu mereka lancarkan kepada mantan lawan yang sekarang kawan. Dulu mempersetan. Kini mempermalaikat. Atau sebaliknya.

Kecelakaan pun sempurna. Sebagian elit lho, lho, lhooo malah menikmatinya. Berselancar di atas buih kebebalan yang disangka cara berdemokrasi. Tak jarang, malah jadi juru kompor sekaligus produsen isu dan tema-tema receh.

Dia risau. Kadang dia mau bilang, “Ayolah. Kita sudah biasa berbeda di warung makan dan kedai kopi atau di toko pakaian dan sepatu. Segoblok-gobloknya memilih, kita masih bisa bedakan makanan lezat dan tidak, kopi enak dan tidak, pakaian dan sepatu bagus dari yang buruk dan palsu. Tidak bisakah kita juga berbeda dalam perkara ini, tanpa menjadi kerdil dan cupat, menjadi buta, tuli, bisu, lumpuh, dalam membedakan mana yang esensial, dan mana yang kelewat sepele?”

Hari-hari ini, dia mau sampaikan itu kepada kawan-kawannya. Entah mengapa, tiba-tiba tulang tumbuh di lidahnya. Keras pula. Sekeras tulang di kakinya. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.