MUI dan Muslimat NU Gelar Talkshow Mewujudkan Generasi Bebas Stunting di Kaltim

317

SAMARINDA Amanah Ummat.Com-Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI Kalimantan Timur bekerjasama dengan PW Muslimat NU Kaltim  mengadakan kegiatan Talk Show  mewujudkan generasi bebas Stunting di Kalimantan Timur.    Acara tersebut dilaksanakan Di Hotel senyiur, Ballorom Sungai Pinang lantai 2 jalan diponegorono 17-19 Samarinda. Minggu 18/6/23

Talkshow   dengan jumlah pesertanya 350 orang lebih dengan tema :Meningkatkan Perempuan dalam Mewujudkan Generasi Bebas Stunting” menghadirkan dua narasumber yakni Dosen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Mulawarman Ratih W Wisnuwardani, SKM,MPH,PhD dan Dosen UINSI Samarinda,   Dr. Hj. Sitti Saghirah, M.Ag.

Para Pejabat dan tokoh masyarakat hadir di Talkshow Mewujudkan Generasi Bebas Stunting di Kaltim/fhoto Roghib

Sambutan Gubernur Kaltim H Isran Noor yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang III ( Sumber daya Alam, Perekonomian Daerah dan Kesejahteraan Rakyat.  Christianus Benny  menjelaskan pada tahun 2021 Prevalensi stunting di kaltim tahun 2021 sebesar 22,8 persen dan pada tahun 2022 malah naik 23,9 Persen dan untuk tahun 2023 ini pemprov kaltim targetkan  angka stunting bisa turun 16 Persen. Bahkan di tahun 2024 nanti kaltim harus bisa turun lagi sampai 12,83 persen.

“Angka Stunting di Kaltim tahun 2022 lalu  memang kaltim lebih tinggi secara nasional Berdasarkan data Survei Status Gizi Nasional (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Indonesia di angka 21,6%., sedangkan Kaltim mencapai 23,9 persen, makanya harus kerja keras agar target  penurunan stunting 2023 bisa turun angka 16 persen, bahkan tahun 2024 berani turun hingga 12,83 Persen, ini tentu tantangan dan tanggung jawab kita  bersama,”  kata  Christianus Benny .

Menurut Benny Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus berkomitmen dalam menurunkan angka stunting pada anak. Untuk itu    semua pihak tak terkecuali organisasi wanita, keagamaan untuk bersinergi bersama-sama menurunkan kasus stunting . Agar Kaltim bebas stunting pada 2024 sesuai dengan target nasional, dapat terwujud.    “Semua harus terlibat. Ini menyangkut masa depan. Karena anak- anak ini merupakan generasi penerus bangsa. Bagaimana kita bisa mencapai visi Indonesia Emas Tahun 2045 kalau modal dasarnya yaitu anak-anak bangsa mengalami stunting,” tegas Benys.

Ketua MUI Kaltim KH Muhammad  Rasyid mengapresiasi komisi PRK MUI kaltim bisa menggelar talkshow  dengan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk  dengan Muslimat NU Kaltim. Dengan adanya kerjasama ini diharapkan program program MUI , khususnya komisi PRK  bisa  dilaksanakan dengan baik.

“ Pada hari ini komisi PRK bisa melaksanakan Talkshow sebagai upaya menurunkan stunting di kaltim ini harus diapresiasi karena dengan dana yang terbatas , program bisa terus dilaksanakan, ini tak lain dan tak bukan karena berkolaborasi dengan berbagai pihak. Ini sama dengan program MUI yang dananya terbatas tapi bisa melaksanakan beberapa kegiatan, bahkan MUI kaltim hanya dengan dana 1 milyar bisa mencapai urutan ke enam secara Nasional organisasi yang paling banyak kegiatan, bandingkan dengan MUI jawa timur yang urutan pertama karena memang dananya besar yakni,25 Milyar,” cerita mantan ketua Baznas Kaltim ini.

WASPADA STUNTING

Dua narasumber yakni Dosen Gizi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Mulawarman Ratih W Wisnuwardani, SKM,MPH,PhD dan Dosen UINSI Samarinda, Dr. Hj. Sitti Sagirah, M.Ag.(Tengah)/fhoto Roghib

Sementara  itu  dalam Talkshow Mewujudkan Generasi Bebas Stunting di Kaltim,  Ratih W Wisnuwardani, SKM,MPH,PhD dalam makalahnya “Waspada Stunting Demi Perkembangan  Anak” mengatakan salah satu ciri stunting pada anak  dimana tinggi badan/panjang badan seseorang lebih pendek dibanding anak pada umumnya.

Lanjut Ratih ada 3 dampak  akibat stunting pada anak, yaitu gagal tumbuh( berat lahir rendah , kecil kurus),2. Hambatan perkembangan  kognitif dan motorik, 3. Gangguan metabolic pada saat dewasa mempunyai resiko diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung.

“Ada faktor Faktor yang menyebabkan stunting yaitu  faktor keluarga  kekurangan gizi, ibunya terlalu pendek (kurang 150 cm), kehamilan remaja, gangguan mental pada ibu, jarak anak pendek, ada juga faktor penyakit orang tua seperti  si ibu terjangkit HIV, Aids, TBC. Gizi buruk, pola asuh yang jelek, pendidikan ibu yang rendah, semua itu menyebabkan faktor stunting pada anak,”jelas Ratih.

Kata Dosen Unmul tersebut Keluarga memiliki peran krusial untuk pencegahan dan penanganan masalah stunting atau anak kerdil. Karena itu, upaya pemberdayaan keluarga

pun sangat diperlukan. Keluarga berperan penting mencegah stunting pada setiap fase kehidupan. Mulai dari janin dalam kandungan, bayi, balita, remaja, menikah, hamil.

“oleh karena itu selalu periksa kehamilan selama hamil, berikan hanya ASI saja  hingga bayi berusia  6 bulan, dan kemudian dilanjutkan makanan pendamping ASI, rutinkan imunisasi pada bayi balita, adakan pemantauan  pertumbuhan pada bayi balita,”imbuhnya.

Sementara itu narasumber dari UINSI Samarinda  . Hj. Sitti Saghirah, M.Ag   mengatakan stunting ini berisiko melemahkan daya imunitas, juga menghambat pertumbuhan fisik dan menghambat perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.

Siti Saghirah memperingatkan,   stunting  berpotensi untuk meninggalkan generasi yang lemah. Sehingga  membuat langkah2 pencegahan   merupakan ibadah kepada Allah sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa Ayat 9 yang artinya,Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang khawatir terhadap (kesejahteraannya).

Oleh karena itu  Siti Saghirah menekankan  Peran orang tua merupakan kunci untuk menghasilkan generasi bangsa yang sehat dan tangguh. Alquran memperhatikan masalah ini dan meresponnya dengan memberi instruksi yang serius. Misal di dalam menjaga kesehatan anak, ibu dianjurkan memberikan ASI (air susu ibu) kepada sang buah hati hingga 2 tahun lamanya, sebagaimana yang tertera dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 233.

disebutkan, kewajiban ibu menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh dan ayah berkewajiban menanggung nafkah yang cukup, serta pakaian dengan cara yang patut.

“Dalam surat  Ahqaf ayat 15, ayat  ini juga  menjelaskan bagaimana pola asuh selama masa kehamilan, melahirkan hingga menyapihnya selama 30 bulan. Begitu sempurnanya Al Qur’an dalam memberikan rambu-rambu  kepada umat manusia. Dengan begitu, harapan kita dengan mengikuti rambu yang ada kita akan terhindar  dari berbagai persoalan salah satunya masalah stunting,” pungkasnya.

Siti Saghirah menjelaskan , landasan kita Q.S. Al Hadid ayat 20, bahwa diantara yang menjadikan kita berbangga-bangga di dunia ini adalah anak keturunan. “Jadi untuk mendapatkan keturunan yang unggul dan dapat dibanggakan perlu memahami masalah kesehatan reproduksi dan stunting ini,” ujarnya.

Para Panitia Talkshow berfoto bersama/Roghib

Hadir  dalam pembukaan Talkshow Sekretaris Muslimat NU Pusat  Dr. Hj. Zahrotun Nihayah, MSi Gubernur Kalimantan Timur diwakili  Staf Ahli Gubernur Bidang III ( Sumber daya Alam, Perekonomian Daerah dan Kesejahteraan Rakyat.  Christianus Benny , Kakanwil Kemenag kaltim, Abdul Khaliq Ketua MUI Kaltim KH Muhammad Rasyid, Ketua NU Kaltim,  H. Fauzi A. Bahtar  , Rektor UNU kaltim Farid Wajdy, Ketua Muslimat NU Kaltim HJ Aminah, wakil walikota Bontang Nazirah, Para Akademisi, Para Pengurus Harian MUI Kaltim, Ketua Komisi PRK MUI kaltim dan Undangan lainya. (Ghib)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.