Kisah Abah Guru Sekumpul Menuju Undangan Tahlilan Si Miskin

2,053

Amanah ummat.Com-Ada satu keluarga yang sangat miskin di Martapura, keluarga ini sangat mencintai dan menghormati Abah Guru Sekumpul.

Hingga suatu saat keluarga tersebut memiliki hajatan atau selamatan. Karena kecintaannya yang sangat luar biasa kepada Abah Guru Sekumpul, sang ayah mencoba memberanikan diri untuk mengundang Abah Guru Sekumpul ke acara tersebut.

Sang ayah pun berjalan menuju rumah Abah Guru Sekumpul, namun sayangnya sang ayah tidak berhasil menemui Abah Guru Sekumpul saat itu. Sehingga sang ayah hanya mengundang Abah Guru Sekumpul melalui khadam beliau saja. Maka pulanglah sang ayah ke rumah dengan perasaan harap-harap cemas sambil berdoa: Ya Allah, mudahan Abah Guru mau datang ke hajatan ulun (saya dalam bahasa Banjar halus) malam ini. Aamiin.

Maka tibalah saat hajatan atau selamatan akan segera dimulai, beberapa kali sang ayah keluar-masuk rumah melihat keadaan jalan yang gelap gulita tersebut. Para undangan di sekitar pun mulai berdatangan sampai-sampai sang ayah telah berputus asa sambil berkata di dalam hati: Apakah mungkin Abah Guru mau datang ke rumah yang reot ini, rumah si miskin ini.

Tidak beberapa lama setelah itu tiba-tiba suasana di sekitar berubah, nampak terlihat orang-orang berlarian ke suatu tempat. Maka sang ayah pun ikut mendatangi ke arah keramaian tersebut. Ada apa gerangan hal yang terjadi?

Masya Allah, terlihat Abah Guru Sekumpul dan beberapa orang mengikuti di belakang beliau berjalan menuju ke rumah sang ayah yang fakir miskin itu. Langsung tanpa isyarat, sang ayah menyambut Abah Guru Sekumpul dengan penuh sukacita dan semangat yang menggebu-gebu serta haru yang luar biasa. Tanpa berkata apa pun Abah Guru Sekumpul langsung masuk ke dalam rumah dan langsung memulai tahlilan sampai selesai.

Tidak lama setelah itu, Abah Guru Sekumpul berpamitan kepada tuan rumah untuk pulang. Abah Guru Sekumpul bersalaman kepada sang ayah/kepala keluarga sambil memberi amplop dan berkata: Ini uang untuk mengganti acara selamatan pian (kamu dalam bahasa Banjar halus), sisanya pian pakai gasan (untuk) berdagang.

Setelah semua undangan pulang, sang ayah menemui istri dan anak-anaknya. Dan di hadapan mereka sang ayah membuka amplop yang diberikan Abah Guru Sekumpul tadi.

Masya Allah, betapa terkejutnya sang ayah yang miskin itu dan keluarganya melihat isi amplop yang diberikan adalah jumlah yang sangat besar pada masa itu.

Adalah akhlak Abah Guru Sekumpul apabila beliau hadir diundang pada acara hajatan, beliau tidak pernah datang dengan tangan kosong. Beliau selalu memberi amplop kepada tuan rumah atau panitia hajatan yang mengadakan acara tersebut, terlebih-lebih yang mengundang adalah orang-orang miskin.

Masya Allah, inilah akhlak Rasulullah SAW. Sungguh sangat jarang sekali kita bisa menemui seorang ulama seperti beliau ini.

Semoga kisah ini menjadi panutan kita untuk mengikuti akhlak Rasullullah SAW terutama dalam hal mencintai, mengasihi, dan menghormati orang-orang miskin. Karena sesungguhnya Rasullullah SAW selalu bersama-sama orang miskin.

Mudah-mudahan kisah ini juga semakin menambah kecintaan kita kepada Abah Guru Sekumpul dengan tetap mengharap ridha dan rahmat Allah SWT dan mengharap syafaat Baginda Rasulullah SAW serta dikumpulkan di surga bersama para Wali Allah dan orang-orang yang shalih, aamiin.

(Dari berbagai sumber)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.