KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari : Satu Guru Satu Ilmu Tapi Beda Ideologi

1,023

INDONESIA  Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia,  didominasi dua organisasi Islam yang sudah berdiri, bahkan sebelum republik ini lahir, yakni Nahdlatul Ulama (NU, sejak 1926) dan Muhamadiyah (1912). Kendati berbeda pada beberapa hal prinsip tentang ajaran agama Islam, ternyata pendiri kedua organisasi Islam terbesar di Nusantara ini punya kedekatan sejak kecil. Tidak hanya bersahabat, melainkan juga dua kali pernah belajar pada satu guru alias ‘satu guru satu ilmu’.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah yang punya nama lahir Muhammad Darwisy, bahkan pernah satu kamar asrama pesantren dengan KH Hasyim Asy’ari.

Begitupun ketika berguru ke H Abdul Karim Amrullah dan Syekh Muhammad Djamil Djambek. Dalam kesehariannya, Darwisy muda memanggil Hasyim  Asy’ari  dengan sebutan  Adi (Adik) Hasyim.

Pasalnya kala itu Darwisy muda usianya lebih tua dua tahun (16 tahun) dari Hasyim Asy’ari  yang sering  memanggil Darwisy dengan sebutan “Mas (kakak) Darwis”.

Keduanya bahkan juga belajar pada guru yang sama di Makkah, Arab Saudi, pada 1903. Selama dua tahun, Ahmad Dahlan kembali bersua dan belajar bersama Hasyim Asy’ari  dengan berguru kepada Syekh Ahmad Khatib.

Oleh karena itu, meski keduanya pada akhirnya berbeda jalan, setidaknya gerakan Islam di Tanah Air bisa dibilang bersumber dari Syekh Ahmad Khatib yang kala itu juga merupakan Imam Besar Masjidil Haram di Makkah.

Dua orang besar inilah yang kemudian  memberi ornamen baru untuk kemajuan Islam di Indonesia. Dengan semangat pergerakan islamnya KH Ahmad Dahlan, giat mendirikan lembaga pendidikan Islam yang formal dengan mengadaptasi pada sitem sekolah kolonial. Anak-anak muda Indonesia tidak hanya belajar agama saja, tetapi juga mampu memahami ilmu alam.

Tidak mengherankan jika saat ini kita banyak menemukan sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit yang maju milik Muhammadiyah, buah kegigihan dalam berideologi sang pendirinya.

Sosok Kiai Dahlan memang terkenal pragmatikus, sedikit bicara, banyak bekerja. Dalam upaya menjawab persoalan ummat, ia bersama dengan orang-orang disekitarnya mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah yang kemudian hari ini menjadi salah satu ormas besar di Indonesia.

Sedangkan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari memang ditugaskan untuk mendirikan Pesantren di Tebuireng, Jombang dan memilih untuk fokus pada kajian salafiyah, kitab-kitab kuning. Santri-santrinya banyak yang berdatangan untuk menimba ilmu. Cita-cita mendirikan jamiyah ulama sangat direspons baik oleh KH Wahab Hasbullah untuk membuat wadah atau organisasi Islam yang moderat dan berasas pada Ahlussunnah wal Jamaah. Kemudian dibentuklah organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bentuk asosiasi ulama-ulama salafi. Perjalanan keduanya memang sedikit berbeda.

KH Ahmad Dahlan cenderung memilih jalur politik dalam mengembangkan gerakan islamiyah di Yogyakarta. Sedangkan Kiai Hasyim lebih memilih membesarkan pondok pesantrennya dengan kajian klasik. Sampai pada suatu saat sang Hadratussyekh menerima sebuah kabar dari santrinya, “Kiai, ada gerakan yang ingin memurnikan agama, dan membuat badan amal perserikatan di Yogyakarta.’ Jawaban Hadratusyekh sangat singkat dan santai. “Oh, itu Mas Darwis. Ayo kita dukung.” NU dan Muhammadiyah adalah bentuk modernisasi Islam Nusantara. Islam yang memandang agama lebih merangkul pada semua aspek, bukan semua aspek harus dilandaskan pada agama.

Asas kedua organisasi besar inilah yang kemudian menumbuhkan agama Islam di Indonesia sebagai agama yang moderat, toleran, dan progresif. Keduanya memiliki ideologi dan cara pandang Islam yang berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya sama-sama ingin mencapai tujuan yang satu, yaitu ridha Allah, dan Islam yang rahmatan lil ‘alamiin. Kita sudah tidak perlu berdebat mengenai amaliyah kita sebagai orang NU atau Muhammadiyah dalam ritual beribadah, karena seperti yang digambarkan di atas, bahwa kedua ormas ini lahir dari orang-orang besar, yang mempunyai satu tujuan, satu misi, dan dari guru dengan sumber yang sama yaitu Al-Qur’an dan hadist. Lalu mengapa, hari ini bangsa kita semakin merasa bahwa golongannya adalah yang paling benar? Ketidak mampuan mengendalikan emosi, mendorong keinginan seseorang untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

NU dan Muhammadiyah sejatinya adalah ormas yang berasas pada perlawanan orang-orang yang mengusik kesejahteraan bumi Nusantara. Bahkan di NU sendiri memiliki slogan Hubbul wathon minal iman;  bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Maka, jelas orang-orang yang mengusik ketentraman orang Indonesia bukanlah orang yang berlandas pada dasar dan tujuan dari berdirinya NU dan Muhammadiyah. NU dan Muhammadiyah yang akan menyatukan umat Islam Indonesia dari cara berpikir yang radikal dan ekstremis, yang justru akan mengancam islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam.

Sumber : www nu.or,id  

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.