KH Abdullah Marisi, Ketua Pertama dan Membidani Berdirinya MUI Kaltim

1,684

Amanah Ummat.Com-Di sebelah selatan Masjid Raya Darussalam, Samarinda ada satu jalan yang diberi nama jalan KH. Abdullah Marisi. Karena di dalam komplek tersebut, tepatnya di sisi kanan atau di halaman bagian selatan terdapat salah satu makam seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang semasa hidupnya kerap dipanggil dengan sebutan Tuan Guru bernama KH. Abdullah Marisi, beliau dilahirkan di kampung Tunggul irang, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1895.

Tahun 1918 ia datang dari Kalimantan Selatan dan menatap di kota tepian, Samarinda. Bersama-sama dengan KH. Muchlis dan beberapa teman lainnya yaitu pada tahun 1919 ia mendirikan al-Madrasah asy-Syafi’iyyah, yang merupakan madrasah pertama di daerah ini yang dilakukan dengan sistem formal.

Dari tahun 1921 sampai 1924 ia pergi menunaikan Ibadah haji dan menetap di tanah suci tersebut untuk menambah ilmu pengetahuan di tempat sumbernya kepada para ulama terkemuka di masa itu, khususnya pengajar di Masjidil Haram. Untuk menggantikan tampuk kepemimpinan Madrasah Al-Islamiyyah ASY-Syafi’iyyah ia serahkan kepada KH. Muchlis, Abdul Gafur dan guru-guru lainnya sebagai staf guru pengajar.

Saat peringatan hari Propinsi Kalimantan Timur ke 44, tanggal 9 Januari 2001, melalui keputusan Gubernur Kalimantan Timur, H. Suwarna AF, Nomor 002/K.03/2001 almarhum KH. Abullah Marisi mendapat tanda penghargaan sebagai tokoh masyarakat yang berjasa di bidang pembinaan umat beragama di Kalimantan Timur (khususnya umat beragama Islam) tanda penghargaan itu diterima oleh salah satu puteri almarhum yang bernama Hj. Siti Wahdah, yang kini bermukim di kota Samarinda.

Hal ini terkait dengan catatan sejarah yang menyebutkan pada tanggal 7 November 1926 berdiri sebuah sekolah Agama Islam Samarinda yang dinamai “Achloessoennah School” di sekolah tersebut beliau bertindak sebagai pimpinan pendidikan.

Kubuiran KH Marisi di  Masjid Raya Samarinda/fhoto MRoghib

 

Disebutkan dalam sebuah maklumat yang menegaskan bahwa sesuai kesepakatan yang dihadiri sekitar seratus orang umat Islam, yang dipimpin Tuan Jaksa Wakil Kepala Pemerintah Hindia Belanda ketika itu, dan Tuan Kampong hoold di Samarinda, telah didirikan sebuah Sekolah Agama Islam di Samarinda yang dinamai Achloessoennah School, pada sebuah jalan yang pada saat itu dikenal dengan nama Stamboel straat di hari Ahad tanggal 7 November 1926.

Abdullah Marisi saat itu ditunjuk sebagai pimpinan pendidikan oleh Hadji Aboel Hasan (penghulu ketiga), mewakili para pendiri Achloessoennah School. Hal ini terjadi sepulang KH. Abdullah Marisi dari menuntut ilmu di Makkah selama beberapa tahun lamanya.

Selain sebagai guru agama yang memiliki ribuan murid KH. Abdullah Marisi juga pernah menjabat sebagai penghulu di Samarinda. Yaitu ketika KH. Aboel Hasan berangkat ke tanah suci Makkah tahun 1930 ia menunjuk KH. Abdullah Marisi sebagai pengganti untuk menjabat sebagai Penghulu/Landraad Agama Islam dan pemerintah pada masa itu juga menyetujuinya. Sehingga ia merupakan penghulu keempat di Samarinda Kota. Selain juga sebagai imam Masjid Jami’ Samarinda, jabatan tersebut dijabat hingga mencapai pensiun tahun 1957 M.

Sebagai imam di masjid Jami’ Samarinda, maka ia yang mengatur semua jadwal kegiatan peribadatan di masjid tersebut. Dan ia juga membikin bangunan sebuah ruangan khusus untuk menampung para musafir, yaitu pada bagian sebelah utara masjid, dengan bangunan tingkat dua yang cukup menampung beberapa orang.

Semangat untuk hidup sederhana selalu dipesankan  pada setiap orang di sekelilingnya. Beliau juga selalu membantu pendidikan seseorang, meski keadaannya sendiri hidup pas-pasan.

Semasa hidupnya KH. Abdullah Marisi adalah seorang ulama yang terkenal dan memiliki karisma besar dikalangan umat Islam Kalimantan Timur, khususnya di kota Samarinda dan sekitarnya. Lebih setengah abad lamanya sejak masa pergerakan sampai sesudah kemerdekaan Indonesia, KH. Abdullah Marisi senantiasa terus menerus mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat muslim di Samarinda dan sekitarnya melalui majelis taklim yang dipimpinnya. Sambil melaksanakan tugas sebagai penghulu dan ketua Landraad ia juga aktif mengadakan pengajian-pengajian baik di masjid, langgar dan di rumah sendiri, demikian juga kegiatan dakwah. Karenanya banyak diantara murid-muridnya yang tersebar luas baik di kota Samarinda maupun di luar kota Samarinda.

Oleh masyarakat ia adalah sebagai tempat minta petunjuk dalam berbagai masalah kehidupan, sampai-sampai kegiatan pemerintahan juga tak luput dari saran dan nasehat-nasehatnya. Juga tidak jarang ia diminta oleh ahlil bait untuk mentasmiyahkan (memberi nama anak).

Ia juga merupakan tokoh pendiri perkumpulan Nahdlatul Ulama di kota Samarinda, yang didirikan pada tahun 1930, karena itu ia juga sempat menduduki jabatan sebagai anggota DPR pada masa-masa permulaan pemerintahan DI. Kutai. Juga di bidang pendidikan agama, ia terus aktif membina madrasah-madrasah, baik yang ditanganinya sendiri maupun sebagai pembina, seperti pada waktu berdirinya: MTH (1930).,Madrasah asy-Syafi’iyyah (1946),PGA (1958),SP. IAIN (1963),Fakultas Tarbiyah (1964)Pada tahun 1967-1970 ia mendirikan bangunan Madrasah Islamiyah yang berada di jalan Diponegoro (Gang Bakti, sekarang gedung tersebut dipakai oleh SMP Muhammadiyah)

Tuan Guru juga mempelopori berdirinya DEM (Dalil Elmu Menolong) yaitu sebuah organisasi yang bertujuan sosial menolong untuk kerukunan kematian. Organisasi ni cepat tersebar ke seluruh kampung, yang hingga dewasa ini dapat dirasakan manfaatnya di dalam pengurusan jenazah.

Saat seluruh bangsa Indonesia terutama warga Samarinda menjalani penderitaan hebat akibat penjajahan Jepang, KH. Abdullah Marisi tampil di depan untuk memberi semangat perjuangan umat Islam di kotanya melawan penjajah dengan caranya sendiri.

Meski penjajah Jepang selalu mondar-mandir di depan rumahnya untuk berusaha menangkapnya, namun serdadu Jepang tersebut tak pernah berhasil, hal ini karena beliau selalu dikelilingi oleh para santrinya dari waktu ke waktu. Para serdadu Jepang itu selalu dihalang-halangi oleh santri-santri beliau yang siap mati syahid sebagai syuhada untuk membela sang guru.

Pada suatu ketika, saat-saat menjelang meletusnya pemberontakan PKI di Indonesia yaitu sekitar 1965, beliau dengan gigih menolak permintaan pengusa militer di Samarinda saat itu yang belakangan diketahui terlibat PKI untuk memutar balikkan fakta dalam materi khutbahnya, meski taruhan nyawa. Padahal pada situasi pelik saat itu siapapun yang menolak Pemerintah Penguasa Militer itu akan dihabisi.

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno KH. Abdullah Marisi pernah dipanggil ke Jakarta untuk menerima sebuah penghargaan, namun karena dianggap terlalu berlebihan beliau menyatakan penolakan dan tak tergiur dengan tanda penghargaan itu.

Puteri bungsu almarhum KH. Abdullah Marisi, yakni Hj. Ulfah Marisi menceritakan, sebelum berpulang ke rahmatullah, ayahnya menderita sakit yang cukup lama, namun beliau tak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya, baik kepada  santri-santrinya yang selalu mendampinginya di saat-saat menjelang kewafatannya.

Semangat untuk terus mengabdi pada syiar agama Islam senantiasa terpatri di kehidupan sehari-hari, bahkan beberapa hari menjelang peresmian Masjid Raya Samarinda oleh Menteri Agama RI masa itu, H. Mukti Ali, beliau berkeras untuk memeriksa persiapan peresmian masjid, padahal keadaan beliau sedang sakit. Terpaksalah beliau memeriksanya sambil berbaring dengan tandu oleh santri-santrinya yang mengusung beliau dari kediamannya.

Tercermin rasa bangga pada raut wajah KH. Abdullah Marisi saat buah pemikirannya menjadi kenyataan, ia tak kuasa menahan tangis, kepindahan Masjid dari tempat lama adalah sesuatu yang selama ini ia diperjuangkannya, walaupun saat itu beliau menahan penderitaan akibat penyakitnya.

Menjelang akhir tahun 1976 kesehatan Tuan Guru KH. Abdullah Marisi mulai menurun, rupanyanya tugas-tugas yang berat dihadapinya melebihi dari kemampuan fisiknya sendiri. Akhirnya pada tanggal 4 Februari 1975 dalam usia 82 Tahun ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dan berpulang ke rahmatullah.

Pada hari itu dunia pendidikan dan warga Kalimantan Timur kehilangan ulama besar yang zuhud dan mukhlis, yang banyak memperjuangkan syiar agama Islam di kota Samarinda, di antaranya adalah Masjid Raya Darussalam. Samarinda.

Atas saran Walikota Samarinda kala itu, H. Muhammad Kadrie Oening dengan mendapat persetujuan dari Gubernur Kalimantan Timur pada saat itu, maka jenazah beliau dikebumikan di komplek Masjid Raya Darussalam, Samarinda. Hal ini disambut dengan rasa syukur segenap ahli waris, para santri dan warga umat Islam di kota Samarinda, khususnya sesama ulama yang saat itu masih hidup.

Keputusan untuk menanamkan KH. Abdullah Marisi di komplek Masjid Raya Darussalam itu tidak saja karena mengingat besarnya pengabdian yang dicurahkan beliau selama lebih kurang 50 tahun secara terus-menerus bagi kemajuan syiar agama Islam. Melainkan juga karena almarhum adalah pencetus ide pertama untuk pembangunan masjid raya itu (pada sekitar pertengahan tahun 50-an) Waktu itu, Masjid Jami’ yang berada di pinggir Sungai Mahakam sudah dirasakan sangat sulit untuk menampung jamaah shalat, terutama saat dilangsungkan shalat Jum’at.

Pemakaman jenazah almarhum di komplek masjid itu terjadi setahun sesudah berdirinya Masjid Raya Darussalam (yang kala itu masih bernama Masjid Raya Samarinda) pada tanggal 4 Februari 1975 silam. Beliau dimakamkan di samping dua ulama yang telah wafat terdahulu dan putranya, Kh. Muhammad Khalid. Konon kabarnya dua ulama tersebut yang mewakafkan tanahnya untuk pendirian Masjid Raya itu.

Keputusan Pemerintah Kota Samarinda untuk mengabadikan nama KH. Abdullah Marisi sebagai satu nama jalan di dekat Masjid Raya Darussalam, Samarinda tentu bertujuan untuk mengenang atas perjuangan beliau dalam syiar agama tauhid di daerah itu.

KH. Kaspoel Anwar Gani salah satu menantu Almarhum KH Abdullah marisi /fhoto Roghib

 

Kaspoel Anwar Gani salah satu menantu Almarhum KH Abdullah marisi dan juga masih terhitung Keponakannya mengungkapkan , KH Abdullah Marisi memang layak dikuburkan di Lingkungan Masjid Raya karena Tuan Guru ini memang salah satu pencetus berdirinya masjid raya, selain itu mengingat besarnya jasa yang diberikan kepada masyarakat kaltim, khususnya di bidang pendidikan agama. Bahkan pada tahun 1960-1970 beliau juga menjadi ketua perkumpulan Ulama yang pada tahun 1975 menjadi organisasi MUI di Jakarta, jadi KH Marisi ikut membidani berdirinya MUI di Kaltim.

“Beliau berjuang  terus menerus selama 50 tahun untuk memajukan pendidikan dan agama di kaltim, beliau juga hidup penuh kesederhanaan, rendah hati ,namun tetap mempunyai kewibawaan yang sangat tinggi.

Penulis : M Roghib /Sumber Hasil Wawancara dan mengutip Buku 100 Tokoh Kalimantan yang disusun Abu Nazla Muhammad Muslim Safwan)

 

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.