Anak-anak di Masjid

Catatan : Syafril Teha Noer

261

Amanah Ummat Com- DUNIA anak-anak identik dengan main-main dan senda-gurau. Di mana saja. Kapan saja. Selagi mereka berkumpul, ‘ritual’ ini hampir selalu berlangsung. Tak terkecuali di masjid, saat shalat berjamaah.

Sebagian penunai ibadah dan takmir menerima atau pasrah saja – ‘namanya juga anak-anak’. Boleh jadi justru menganggap keriuhan yang mereka hasilkan sebagai ujian kekhusyukan. Bahwa pokok urusan sejatinya bukan penertiban jamaah anak-anak, melainkan seberapa total penghadapan pada Sang Khaliq. “Kau terganggu karena tak fokus. Bukan karena anak-anak berisik”.Keadaaan itu pun berlangsung hari ke hari, sebagai kelaziman.

Sebagian lainnya menyikapi ulah anak-anak itu sebagai gangguan. Lalu memarahi. Atau mengusir ke langkan masjid. Atau menghukum mereka seusai shalat.

Saya menemukan contohnya di sebuah surau di perkampungan Jakarta penghujung tahun 60-an silam. Tak terlupakan, sebab sang juruhukum adalah guru mengaji di sana. Dan beliau adalah paman saya. Hukuman bagi jamaah anak-anak yang berisik selagi shalat adalah sabetan rotan di telapak tangan. Efeknya, saya dan kawan-kawan tertib bila beliau bersama kami dalam shalat berjamaah. Bila absen, wallaahua’lam.

Di antara jamaah ada juga orangtua yang mengajak anak bersebelahan di shaf yang sama. Tidak membiarkannya berkumpul dalam kelompok jamaah seusia. Ini dilakukan berkat kesadaran, bahwa justru selagi belialah anak-anak perlu latihan memahami adab beribadah. Bahwa ada saat bermain-main, ada pula saat berperilaku tertib.

Tapi yang begitu relatif sedikit. Setidaknya, tak sebanyak orangtua yang membiarkan saja kegaduhan dalam ibadah berjamaah, kendati mendapati sejumlah anak dorong-mendorong, ngobrol, menyuarakan ‘aamiin’ dengan bengok-bengok, atau mengganggu sesama, persis di shaf depan mereka. Membiarkannya saja, mungkin sambil berhusnudzan; sekali waktu nanti mereka paham juga bahwa itu tak sopan, terutama kepada Tuhan. Atau, karena begitu khusyuk malah tak menyadarinya?

Ketika Anak Anak ikut ke Masjid, kelihatan riang dan gembira/fhoto istimewa

Saya tak ingat nama masjid dalam sebuah artikel yang pernah saya baca. Juga alamatnya. Yang saya ingat, anak-anak di situ dimenej, dikelola, diatur. Caranya, dengan menempatkan tiap mereka di sela jamaah dewasa. Berselang-seling.

“Anak-anakku, kalian hebat karena ikut shalat berjamaah di masjid. Kami bangga. Tapi karena yang sebentar lagi kita hadapi adalah Allah Subhaanahu wa Ta’aala, maka perilaku tertib dan sopan mutlak perlu diutamakan. Bercanda selagi shalat itu tak sopan,” kata imam di masjid itu menjelang shalat, lalu meminta anak-anak diberi tempat di kiri atau kanan jamaah dewasa di tiap shaf yang terbentuk.

Prosesi shalat pun berlangsung tertib dan syahdu. Bahwa sesudahnya anak-anak segera berhamburan ke langkan dan riuh lagi, agaknya sudah bukan masalah yang serius-serius amat. Cukuplah mereka berperilaku sopan dulu di hadapan Tuhan, dalam ‘pertemuan’ saat shalat, sebelum menyadari kesopanan serupa kelak tetap harus mereka tunaikan lewat tertib kelakuan di keseharian. Di mana pun, kapan pun, bersama siapa pun.

Saya benar-benar gagal mengingat alamat dan nama masjid itu. Tapi sangat jelas. Suasana ‘perjumpaan’ dengan Tuhan di situ, dengan bagaimana pun mutu dan level kekhusyukan, menjadi jauh lebih asyik.

Sudahkah masjid, surau, langgar, atau mushallla di kampung kisanak semua memenej jamaah anak-anak yang cenderung riuh, bila terkumpul dalam satu barisan dan kelompok jamaah? Jika sudah, bolehlah ikut berbagi kisah. Di kampung saya, terus-terang, baru sedang akan diusahakan. Semoga sukses. ***

 

(Syafril Teha Noer:Wartawan Senior dan Seniman di Kaltim)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.